Wednesday, October 29, 2014

Anak Tidak Nyenyak Tidur Di Malam Hari?

Apakah anak balita Anda sulit untuk memulai tidur dan seringkali terbangun atau tidak nyenyak tidurnya?
Jangan khawatir dulu, memasuki fase dari bayi kecil yang hanya bisa tidur menjadi bayi yang bisa berjalan memang tidak mudah. Secara fisik banyak terjadi perubahan dalam diri si anak. Gangguan tidur pada balita terutama sering terjadi pada anak laki-laki apalagi jika ia anak pertama. Kemungkinan karena anak laki-laki memang secara fisik lebih kuat sehingga butuh penyaluran fisik yang lebih, dan manakala itu tidak terjadi maka tidur mereka akan kurang nyenyak. Kenapa juga lebih sering pada anak pertama karena turbulensi emosi yang harus dilalui dia karena kehadiran adiknya, ia yang tadinya biasa menjadi pusat perhatian harus berbagi dengan si adik. Si kecil mungkin belum bisa mengungkapkan kecemasannya, dan hal yang terbaik sebagai orang tua adalah senantiasa memberikan kehangatan dan bahasa cinta agar ia merasa selalu dicintai. Saat ia rewel, coba peluk dia dengan penuh kasih sayang, sembari menjelaskan bahwa mama sedang sibuk mengurus adik bayi, misalnya, dan katakan bahwa mama akan luangkan waktu untuk bermain bersama lagi. Tentu butuh waktu hingga akhirnya 'otak primitif' si kecil bisa merasionalisasi episode ini, yang dibutuhkan disini tiada lain hanya KESABARAN dan KETENANGAN yang luar biasa :)

Namun apabila gangguan tidur anak Anda disertai satu atau beberapa hal di bawah ini, sebaiknya periksakan si kecil ke dokter.

> Mengorok keras
> Terlihat kesulitan bernafas
> Bernafas melalui mulut
> Sering tersedak atau batuk-batuk hingga terbangun
> Berkeringat banyak
> Tampak bingung atau ketakutan saat bangun di tengah malam
> Menendang-nendang kakinya atau jalan keluar dari tempat tidur saat tidur
> Sering sekali terbangun (lebih dari tiga kali dalam semalam)


Sumber : http://www.babycenter.com/0_does-your-toddler-have-a-sleep-disorder_1293573.bc

Friday, July 25, 2014

Tips Menjawab Pertanyaan Anak Mengenai Tuhan



“Siapa sih orangtuanya Tuhan itu?” “Kalau Tuhan Maha Kuasa kenapa Dia tidak mencegah hal-hal buruk terjadi di bumi?” “Apakah Tuhan benar-benar mendengar doa kita?” dan sekian banyak pertanyaan lugas meluncur dari lisan si buah hati yang masih polos.

Biasanya orang tua ‘ngeles’ jika ditanya anak hal-hal yang berkaitan dengan Tuhan, entah karena berpendapat belum saatnya berbicara ‘serius’ dengan anak atau memang orang tua juga dibikin pusing oleh pertanyaan-pertanyaan mendasar dan brilian khas anak yang lugu.

Sebenarnya berbicara mengenai Tuhan merupakan hal yang penting dalam perkembangan jiwa anak, supaya ia belajar akan adanya sesuatu yang bernilai lebih dari apa-apa yang bersifat material. Mengajarkan anak tentang Tuhan dan sifat-sifat-Nya akan memberikan dasar yang kuat bagi perkembangan spiritualnya di masa datang. Berikut adalah beberapa tips dalam berkomunikasi dengan anak tentang Tuhan:

1. Metode Dialog (Ajukan pertanyaan).
Apabila anak bertanya ini dan itu, jangan panik dan bersifat defensif atau bahkan jawab ngasal dengan jawaban sotoy  (sok tahu). Misalkan si kecil bertanya, “Kalau Tuhan punya ayah ngga ya?” sebelum buru-buru jawab coba dulu tanya balik sang anak, “menurut kakak bagaimana?” Penelitian menunjukkan bahwa hampir semua anak mulai usia enam tahun sudah berkembang konsep pemikirannya mengenai Tuhan. Pertanyaan itu akan merangsang mereka untuk menjawab dengan jawaban yang jujur, di titik ini coba untuk tidak menjejali mereka dengan prekonsepsi kita, biarkan sang anak berpikir dan menggunakan imajinasinya untuk membayangkan apa dan siapa itu Tuhan.

2. Memperkenalkan Tuhan Melalui Cerita
Menceritakan cerita tertentu kepada anak adalah salah satu cara untuk membentuk karakter anak. Untuk memperkenalkan Tuhan, ceritakan kepada mereka kisah-kisah dari kitab suci, legenda kepahlawanan atau kisah nyata yang menyentuh. Sisipkan disitu nilai-nilai dan sifat Ketuhanan. Dengan cara ini anak lebih mudah menangkap suatu konsep, karena memperkenalkan sesuatu diiringi contoh dibandingkan dengan kalimat yang abstrak. Misalnya, alih-alih mendengung-dengungkan kepada anak bahwa Tuhan itu Maha Kuasa, ajak mereka untuk melihat sifat Tuhan dengan lebih spesifik, misal “Tuhan adalah Dia yang bisa menghidupkan orang mati” (misal belajar dari kisah Nabi Isa as atau Nabi Ilyas as yang menghidupkan orang mati dengan ijin Tuhan).

3. Perkenalkan Tuhan Dalam Keseharian
Sesering mungkin bawa Tuhan dalam aktivitas yang sehari-hari dilakukan, misal “Nak, bantu ibu masak yuk! Ini kita dapat rejeki dari Tuhan sehingga bisa membeli makanan ini. Dan tahu ngga makanan ini semua bisa tumbuh dengan baik dengan kuasa Tuhan.” Manakala sedang jalan-jalan dan melihat sesuatu yang indah katakan “Subhanallah, luar biasa indahnya ya nak ciptaan Tuhan.”

4. Jangan Terpancing Emosi atau Bersikap Defensif
Anak, khususnya saat mereka memasuki fase remaja muda biasanya mempunyai banyak pertanyaan tentang “bukti-bukti bahwa Tuhan ada”. Kadang pertanyaan mereka bisa dianggap “tidak masuk akal” dan membuat orang tua kelabakan untuk menjawab. Hal utama yang harus dilakukan para orang tua adalah bersikap tenang dan selalu terbuka. Biarkan anak merasa bahwa mereka bisa dengan aman menanyakan apapun , terutama isu penting tentang Ketuhanan, dan bisa mengutarakan pendapatnya kepada orang tua mereka.

5. Berikan Jawaban Yang Baik
Hanya karena mereka tampaknya masih anak kecil bukan berarti orang tua bisa asal memberikan jawaban. Memang seringkali tidak ada jawaban yang presisi atas pertanyaan-pertanyaan yang brilian, tapi setidaknya ada jawaban yang baik. Cobalah jangan memberikan jawaban yang sekenanya supaya mereka berhenti bertanya, padahal bisa jadi jawaban ‘ngasal’ itu yang melekat kuat dalam memori mereka hingga dewasa, maka tidak menutup kemungkinan mereka harus menghadapi konflik dalam dirinya untuk mengerti jawaban yang ditanamkan orang tua jauh-jauh hari dengan kenyataan yang mereka hadapi saat mereka dewasa. Kalaupun orang tua tidak tahu jawabannya akan lebih adil jika katakan apa adanya, “Hei, itu pertanyaan yang sangat bagus, mari kita cari sama-sama jawabannya!”. Atau jika pertanyaan itu agak susah jika diterangkan secara konseptual maka bawa ke tataran contoh yang nyata. Misalkan seorang anak bertanya “Kalau Tuhan ada di mana-mana, apakah Dia sekarang ada di dalam kantung saku saya?” Jawabannya bisa jadi dengan menjelaskan antara hal yang fisik (Nampak) dan non-fisik. Misalkan rasa cinta adalah sesuatu yang bisa dirasakan, tapi kalau disuruh menunjukkan dimana rasa cinta berada, sulit untuk menunjuknya dengan tepat, akan tetapi kita bisa merasakannya, nah hal yang sama dengan Tuhan.


Yang menarik adalah semua pertanyaan anak adalah murni dan tanpa pretensi, kadang kita juga sering diingatkan melalui pertanyaan-pertanyaan lugu mereka akan hal-hal yang bersifat fundamental namun kita cenderung acuhkan atau merasa sudah mengerti. Bagaimanapun anak adalah guru kita juga yang Tuhan kirim dari surga-Nya  :)

Referensi : http://www.jewishfederations.org/page.aspx?id=11672

Thursday, July 10, 2014

Cara Orangtua Mendidik Anak Menurut Bawa Muhaiyyaddeen


Sadarilah bahwa anak meniru semua gerak-gerik orangtuanya baik yang nampak maupun tidak. Setiap kata yang Anda ucapkan, cara bergaul dengan sesama, sikap suami terhadap istri dan istri terhadap suami, bahkan hal-hal yang tidak tampak seperti kecemasan, keluhan, sifat sabar, pemaaf, toleran semuanya akan diserap dan ditiru.
Jika orang tua mencontohkan sifat-sifat baik, maka anak akan meniru berbuat baik. Jika orang tua gemar membincangkan hikmah dan iman kepada Tuhan, maka anak pun akan mengikuti. Jika orang tua berwajah cerah ceria, anak pun akan menampilkan keceriaan kepada setiap orang. Sebaliknya jika orang tua sering marah, anak pun akan kerap menunjukkan amarah.
Demikianlah, kedua orang tua adalah guru pertama sang anak sebelum mereka memasuki dunia sekolah. Di saat inilah kedua orang tua harus berjuang untuk menanamkan sifat-sifat baik sebanyak mungkin kepada anak, karena apa yang dipelajari pada fase pertama pendidikannya di dunia adalah bagai mengukir di atas batu, ia akan terpatri di dalam hati anak yang paling dalam (qalb). Apabila orang tua tidak berbohong, anak tidak akan berbohong; jika orang tua sering berseteru, anak akan menirunya, jika suami istri saling menghargai, anak akan belajar menghargai, jika kedua orang tuanya saling mencintai, anak akan menampakkan kualitas-kualitas cinta.
Maka nilai apapun yang orang tua akan tanamkan kepada anak baru akan berhasil jika hal itu sudah dimiliki dan diamalkan olehnya. Anak tidak akan belajar sabar jika dalam hati orang tuanya masih didominasi oleh keluhan. Anak tidak akan tumbuh menjadi pemberani dalam kehidupan jika dalam hati orang tuanya masih penuh dengan ketakutan akan hari esok. Anak tidak akan belajar memaafkan jika rasa dendam masih menyala-nyala dalam hati orang tua.
Beginilah caranya orang tua mengajarkan anaknya, mereka menyatakan sesuatu tanpa harus bicara, menunjukkan sesuatu tanpa harus mendemonstrasikannya, yang mereka lakukan adalah mengamalkannya dalam keseharian.
Inilah jihad orang tua untuk memutus sayyiah (sifat-sifat buruk) kepada anaknya.
(Terjemahan Bebas dari "Raise the Children with God's Psychology" oleh Bawa Muhaiyyaddeen. Fellowship Press, 2007)

Tuesday, July 8, 2014

Pesan Bawa Muhaiyyaddeen Kepada Guru

Seorang guru bertanya kepada Bawa Muhaiyyaddeen tentang bagaimana cara mengajar yang baik kepada anak didiknya yang duduk di sekolah menengah atas.Ia itu berkata apabila ia bersikap terlalu baik anak-anak itu melunjak, cenderung tidak menunjukkan rasa hormat dan bahkan tidak mengerjakan instruksinya. Sebaliknya jika ia terlalu keras mereka akan berontak, marah dan bahkan dapat membalas dengan cara yang kasar.

Bawa Muhaiyyadden - sang guru sufi kemudian berkata:
Sebagaimana seseorang yang minta dipangkas rambutnya pada seorang tukang gunting rambut, maka itu baru bisa terjadi bila orang tersebut duduk diam dan tenang supaya sang tukang gunting rambut bisa mengerjakan tugasnya dengan baik dengan hasil yang diinginkan. Demikian halnya dengan mengajar.

Sebelum mulai pengajaran yang Anda harus lakukan begitu memasuki ruang kelas adalah mengajak semua anak berdoa kepada Tuhan selama dua menit. Luruskan niat hanya untuk-Nya. Katakanlah kepada para murid, "Anak-anak mari kita berdiri dan berdoa kepada Tuhan dari lubuk hati yang paling dalam." Jadikan itu kebiasaan sebelum Anda memulai pengajaran. Ikutlah berdiri dan berdoa dengan khusyu bersama para anak didik.

Setelah itu ceritakan kepada mereka kata-kata hikmah yang penuh cinta selama sekitar lima menit, lalu katakan kepada mereka,

"Anak-anakku yang tersayang, saya berdiri di sini sebagai guru dan kalian semua sebagai murid. Seyogyanya tercipta rasa kesatuan dan harmoni antara guru dan murid-muridnya, sebagaimana terciptanya persatuan dan harmoni antara Tuhan dan hamba-Nya. Demikian pula hati kita harus bersatu dan selaras dengan kebenaran. Kita mesti menjalani hidup dalam harmoni dan selaras dengan Yang Maha Pencipta.

Anak-anakku yang tercinta, agar pelajaran yang diberikan bisa diserap dan dimengerti dengan baik, maka kalian harus menaruh kepercayaan penuh pada saya sebagai guru. Hanya dengan cara ini - saat hati dan pikiran kita tersambung maka pencerahan ilmu pengetahuan dapat diraih."

Kemudian, mari kita renungkan sejenak tentang kehidupan. Ketahuilah bahwa apapun kebiasaan yang kita lakukan saat muda akan tertanam kuat terbawa hingga mati. Apabila sejak muda kita terbiasa berbuat baik dan memiliki pergaulan yang baik, maka itu akan menjadi bagian yang akan selalu ada dalam diri kita. Apabila sejak muda kita belajar hikmah dalam hidup, maka ajaran itu akan terus bersinar di dalam dada kita masing-masing.

Masa-masa sekolah seperti ini akan cepat sekali berakhir. Hidup di dunia ini sungguh secepat kilat. Saat kita dilahirkan, selama dua tahun lamanya kita dalam asuhan ibunda. Sejak usia tiga hingga lima tahun kita mulai senang bermain, mulai mengenal angka, huruf dan senang bermain dengan berbagai macam mainan. Lalu saat mulai sekolah hingga usia sekitar 18 tahun kita mulai mengenal jauh lingkungan sekitar, biasanya banyak hal terjadi di sini, termasuk hal yang kurang baik atau kurang berkenan, apakah itu berkaitan dengan lingkungan teman, tetangga atau keluarga. Hal-hal seperti itu dapat mengganggu jalannya proses belajar dan perkembangan jiwa masing-masing.

Oleh karena itu, Anda sudah tidak boleh  main-main lagi memasuki masa tersebut dan harus mulai belajar dan mempraktikkan nilai-nilai kebajikan. Anda harus mulai belajar bertanggung jawab untuk menunaikan kewajiban Anda sebagai pelajar, sebagai anak, sebagai tetangga dsb. Ketahuilah bahwa masa sekolah yang sekejap ini akan menorehkan arah kehidupan Anda di masa yang akan datang. Apabila sejak sekarang Anda tidak bekerja keras untuk mempelajari kebaikan, tidak serius dalam menuntut ilmu, maka hidup Anda selanjutnya akan sulit dan penuh dengan penderitaan. Inilah periode emas dimana Anda harus belajar nilai-nilai kasih, sabar, toleran dan perdamaian. Kadang Anda harus mempelajari semua nilai itu dengan cara yang tidak mengenakkan dan harus menjalani kehidupan yang sulit.

Bahkan saat Anda merasa tidak suka dengan sifat guru Anda tetaplah diam dan pelajari ajaran yang disampaikannya baik-baik. Berjuanglah untuk senantiasa menunjukkan antusiasme dalam belajar, hanya dengan cara ini Anda akan sukses dalam kehidupan. Jangan sia-siakan masa belajar ini! Nanti setelah Anda lulus masih ada waktu untuk bermain-main, namun sekarang bukan saatnya. Karena ini adalah masa yang sangat genting bagi perkembangan jiwa Anda.

Saat inilah dimana badan Anda sedang dalam masa puncak, pikiran Anda sedang dalam energi optimalnya. Inilah saat yang tepat untuk menyerap ilmu dan hikmah sebanyak mungkin, inilah saat untuk meraup harta karun yang tak ternilai di dunia ini. Disinilah titik genting dalam rentang kehidupan Anda, apa yang Anda lakukan di episode ini adalah gambaran Anda di masa depan. Sadarilah hal ini dan gunakan waktu dengan bijak."

Awali setiap pengajaran dengan hal seperti ini, mulai dengan berdoa kemudian ajarkan mereka sepenggal hikmah kehidupan. Jika Anda lakukan ini, maka murid-murid Anda akan lebih patuh dan mulai mendengarkan dengan seksama.

(Terjemahan bebas dari Questions of Life Answers of Wisdom. Fellowship Press)

Sunday, June 29, 2014

Apa Warisan Terbaik Orangtua Kepada Anaknya?

Seberapa jauh kita harus memperkenalkan anak pada dunia?
Apakah baik membawa anak ke tempat seperti taman rekreasi?
Bagaimana kita menyeimbangkan antara memperkenalkan anak pada dunia dan melindungi darinya?
Bawa Muhaiyaddeen: Apapun yang dipelajari seorang anak bagaikan mengukir di atas batu. Kualitas apapun yang dicontohkan kepadanya akan ia serap dan menjadi kuat seiring ia bertambah dewasa. Mereka akan merekam semua perbuatan di sekitarnya seperti kamera yangmerekam apapun pemandangan yang ada. Hal ini harus disadari oleh para orangtua.
Apabila Anda mengajarkan hal-hal yang baaik, maka itu akan terpatri di dalam hatinya. Demikianlah, jika orang tua mengajarkan kepada mereka tentang iman kepada Tuhan dan sifat-sifat baik Tuhan, mengajaknya untuk menjadi pencari Tuhan, menunjukkannya akhlak yang baik, maka hal-hal itu yang akan tertanam dalam di hati mereka. Anak-anak akan melihat perbuatan orang tuanya dan akan menirunya, itu akan menjadi benih yang akan tumbuh hingga mereka dewasa.
Tapi jika Anda membawa mereka ke taman bermain, danau atau berbagai pertunjukan hiburan, hal-hal seperti ini yang akan melekat dalam hati mereka hingga mereka dewasa. Kemudian akan lebih sulit untuk mengubahnya.
Hal-hal yang bersifat duniawi akan selalu tersedia. Apapun kesenangan yang Anda lihat hanya akan bersifat sementara, dunia hanya panggung hiburan sesaat. Anak-anak akan selalu bisa melihat dan menikmati hal seperti itu nanti. Akan tetapi bila sifat-sifat baik lalai ditanamkan sehingga membekas di hati mereka saat kecil, akan lebih sulit untuk mengajarkan pada mereka saat mereka dewasa.
Oleh karena itu, selagi anak masih berusia muda ajarkanlah kepada mereka sifat-sifat baik dan perilaku yang indah. Ajarkan kepada mereka bagaimana bersifat toleran dan damai. Tunjukkan kepada mereka sifat-sifat itu dalam perilaku orang tua sehari-hari. Maka hal-hal itu yang akan mereka bawa saat mereka memasuki masa sekolah, bekerja atau hal lainnya. Hal yang mereka pelajari di masa kecil akan selalu diingat, mereka akan berpikir "Percayalah kepada Tuhan. Itu yang ayah dan ibu saya selalu ajarkan."
Walaupun si anak akan tersesat melakukan kesalahan dalam hidup, tapi pilar-pilar kebaikan yang sudah tertanam sebelumnya akan melindungi mereka dan membawa mereka kembali pada jalan kebenaran.
Maka lihatlah ke dalam diri masing-masing, kualitas apa yang Anda ajarkan kepada anak melalui perilaku Anda dan sikap Anda menghadapi kehidupan?
(Terjemahan Bebas dari : Questions of Life and Answers of Wisdom by the contemporary Sufi M.R. Bawa Muhaiyyaddeen. Fellowship Press, Philadelphia. 1991.)

Tuesday, June 24, 2014

Suara Ibu Bisa Meredakan Stress Pada Anak




Penelitian membuktikan bahwa mendengar suara ibu dapat dengan cepat meredakan ketegangan dan mempunyai efek yang sama dengan pelukan. Penemuan ini dapat membantu menjelaskan mengapa ibu kita seringkali orang yang pertama kali kita hubungi saat menghadapi masa-masa sulit.

Para peneliti dari University of Wisconsin-Madison membuat percobaan pada sekelompok anak perempuan usia 7-12 tahun yang diberikan tugas melakukan pidato dan menyelesaikan serangkaian soal matematika di hadapan sekumpulan panelis yang mereka tidak kenali. Kondisi ini membuat jantung mereka berdetak lebih cepat dan mengakibatkan kortisol – hormon yang berkaitan dengan stress – meningkat tajam. Kemudian sepertiga dari perempuan itu dipertemukan dengan ibunya, sepertiga dipersilahkan bicara lewat telepon dengan ibunya dan sepertiga lagi diberi suguhan film untuk ditonton.

Hasilnya mengejutkan para peneliti, karena perempuan yang dipersilahkan menemui atau menelepon ibunya - agar ditenangkan demi menghadapi ujian yang dihadapi – mengalami peningkatan hormon oksitosin  dalam satu jam pertama (oksitosin disebut juga sebagai ‘cuddle chemical’ biasanya dilepaskan di dalam tubuh saat manusia dalam kondisi yang menyenangkan apakah itu menyusui antara ibu dan anak, burhubungan seksual, merasa dipercaya dan aman dst).

Penelitian ini membuktikan bahwa suara ibu mempunyai efek yang sama dengan pelukan dalam meredakan stress pada anak .


Sumber : http://www.dailymail.co.uk/health/article-1277679/Talk-mum-good-hug-Mothers-voice-best-stress-relief.html

Wednesday, May 21, 2014

Dasar-Dasar Pendidikan Anak Menurut Platon

Plato banyak mencurahkan perhatiannya kepada pendidikan anak sebagai generasi penerus bangsa. Oleh karenanya ia berpendapat bahwa pendidikan anak seharusnya menjadi tanggung jawab negara (Republic, 2, 376)dimana setiap anak wajib mendapatkan pendidikan yang layak. Selanjutnya negara sepatutnya mengelola dengan baik pembiayaan untuk para pendidik serta semua staf yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan. (Laws, 7, 764, 804, 813)

Prinsip dasar pendidikan anak menurut Plato adalah bahwa anak tidak dididik untuk dijadikan komoditas kehidupan semata dimana pendidikan berorientasi pada pemenuhan suplai tenaga kerja dan dengan demikian manusia dibentuk tidak ubahnya seperti robot-robot yang dipersiapkan untuk menjadi budak-budak mesin industri dalam kehidupan. Dalam jargon umum yaitu: sekolah tinggi – dapat kerja dengan gaji bagus – berkeluarga – membangun kemapanan kehidupan dan mati dalam keadaan sejahtera. Menurut Plato pendidikan selayaknya untuk menghasilkan henersai yang mempunyai hasrat untuk menjadi perfect citizen, dalam arti orang yang mengerti fungsi dan peranan dirinya dalam masyarakat. (Laws, 1, 643). Selanjutnya Plato juga menekankan pendidikan budi pekerti di atas pendidikan logika, dengan mengatakan bahwa “Education is thus the correct channeling of pains and pleasures” (Laws, 2, 653) yang bertujuan untuk mempertahankan sifat-sifat baik yang ada dalam diri anak dan kemudian mengembangkannya. (Republic,3, 398, 401)

Pendidikan Prenatal dan Usia Balita
Plato merekomendasikan pendidikan jiwa dan raga manusia dimulai sejak anak di dalam rahim, salah satunya dengan menyarankan kegiatan jalan kaki bagi para wanita hamil. Selain itu disarankan bagi anak usia balita agar melakukan banyak kegiatan fisik yang berfungsi sebagai penyeimbang bagi perkembangan jiwanya. (Laws, 7, 758, 759)

Storytelling
Dalam pandangan Plato kegiatan storytelling menempati peranan utama dalam pembentukan karakter anak dan kegiatan ini sebaiknya sudah dimulai sejak dini bahkan sebelum anak diperkenalkan dengan pendidikan fisik. Cerita yang disuguhkan kepada anak hendaknya yang bersifat legenda kepahlawanan. Hindarkan memperkenalkan anak dengan cerita yang menakutkan, seperti kisah monster, kengerian neraka atau kutukan dsb untuk menghindari anak menjadi bersifat penakut. Karena anak seharusnya dilatih untuk menjadi pemberani dan bebas dari takut akan kematian. (Republic, 2, 377, 383)

Aktivitas Bermain
Plato percaya bahwa karakter anak akan terbentuk saat ia bermain. Di sisi yang lain orang tua juga harus menekankan disiplin dalam kadar yang tepat dan bukan untuk mengintimidasi anak dan juga tidak membiarkan anak tenggelam dalam kesenangan bermain. (Laws, 7, 792). Anak yang terlalu dimanja dengan kemewahan hidup akan membuatnya tumbuh menjadi bertemperamen buruk danirritable, kemudian dalam perkembangannya ia akan mengalami kesulitan ketika harus berkonfrontasi dengan kenyataan pahit dalam kehidupan. (Republic, 3, 395)
Para pendidik dianjurkan untuk menyediakan bermacam model permainan yang bisa menyalurkan bakat dan potensi anak yang berkaitan dengan aktivitas yang akan mereka tekuni di saat mereka dewasa. Plato menyarankan agar anak-anak dibiarkan bermain bersama, walaupun demikian sudah mulai dikenal pemisahan jenis kelamin sejak anak berusia 6 tahun, tapi baik laki-laki maupun perempuan mempunyai kegiatan yang sama seperti menunggang kuda, memanah, danca ataupun permainan gulat (untuk mengembangkan kekuatan dan ketahanan fisik).
Permainan anak sangat diperhatikan oleh Plato, karena menurutnya permainan yang anak-anak lakukan di masa kecil berperan penting untuk pembentukan hukum dalam negara. (Laws, 7, 795-797)

Sumber : http://www.faqs.org/childhood/Pa-Re/Plato-427-348-B-C-E.html

Pendapat Socrates Tentang Cerita Yang Baik Untuk Anak

Socrates berpendapat bahwa cerita (termasuk bacaan dan tontonan) yang dikonsumsi oleh anak harus diseleksi dengan ketat, karena anak akan cenderung menyerap setiap hal yang mereka terima, lebih jauh Socrates mengatakan bahwa apapun yang diambil anak pada masa itu akan cenderung melekat dalam dirinya sehingga akan sulit untuk diubah.
Anak belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk sehingga mengkonsumsi cerita yang menonjolkan keburukan apalagi tanpa pendampingan orang tua akan membuat anak membenarkan perbuatan buruk yang mereka lakukan. Maka cerita yang diserap anak akan membentuk jiwanya.

Lebih lanjut Socrates menekankan pentingnya memperkenalkan nilai-nilai kebajikan di dalam cerita yang disajikan. Pernah Socrates memberikan kritik pedas kepada dua penyair besar pada masanya, yaitu Hesiod dan Homer karena menggambarkan para dewa dan pahlawan dalam imaji yang menurutnya tidak sesuai. Bagi Socrates, dewa-dewa tidak selayaknya digambarkan berperilaku tidak adil karena anak akan menangkap bahwa hal itu merupakan hal yang bisa diterima. Selain itu anak sebaiknya tidak diceritakan bagaimana para dewa saling berperang satu sama lainnya melainkan hanya memperkenalkan bahwa para dewa hanya berbuat kebaikan dan keadilan. Anak juga akan belajar prinsip kesatuan dan harmoni mendengarkan cerita yang damai bukan tentang perpecahan, perkelahian atau kekerasan.

Cerita yang baik, lanjut Socrates adalah yang dapat memupuk keberanian, hidup bersahaja dan rasa keadilan dalam diri anak. Selain itu, cerita yang baik tidak terlalu menggambarkan kegembiraan atau kesedihan yang berlebihan, tidak juga menonjolkan kemewahan dan cinta harta dan kekayaan.

Socrates berpendapat bahwa membuat cerita anak yang disusun dengan baik akan berfungsi sebagai salah satu metode untuk mendidik jiwa sang anak (educating guardians’ soul). Apabila anak terbiasa dengan cerita yang bernuansa kebaikan maka mereka akan membiasakan diri dengan kebaikan dan sebaliknya akan menghindari hal yang tidak baik.

Sumber : http://www.scu.edu/ethics/publications/submitted/dillon/education_plato_republic.

Tips Membantu Si Kakak Menerima Kehadiran Adik Kecilnya

Selamat atas kehadiran sang buah hati Anda yang kedua! Semua anggota keluarga pasti merasa bahagia, tidak terkecuali si kakak. Namun jangan heran, setiap anak akan merespon kehadiran adik kecilnya berbeda-beda tergantung temperamennya masing-masing. Anak yang bersifat lebih fleksibel dan mandiri cenderung bisa beradaptasi lebih mudah, sedangkan anak yang sensitif dan menyukai rutinitas biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk menerima kehadiran adik kecilnya.

Si kakak biasanya akan menunjukkan gejala minta perhatian, terutama saat ibu sedang mengasuh sang adik, misal sedang menyusui atau mengganti popoknya, jangan terpancing emosi kalau si kakak tiba-tiba merajuk minta dibikinkan minuman, minta ini-itu. Atau bahkan dia akan terlihat agak bersifat kasar terhadap adiknya, misal memukul tangan adik atau memainkan mainannya di atas kepala adiknya. Hadapi kelakuan si kakak dengan lembut, tindakan memarahi akan makin menjauhkan dia dari adiknya. Ajak bicara baik-baik “kakak, yang lembut sama adik kecil ya, kalau dipukul kan sakit..” sambil menunjukkan bagaimana cara membelai adiknya dengan baik. Lama-lama si kaka akan mulai menunjukkan rasa sayangnya yang tulus dan bahkan menikmati kehadiran sang adik kecil dalam kehidupannya.

Ada beberapa tips yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu si kakak menhadapi masa transisi tersebut :

1. Berikan padanya tugas spesial
Libatkan si kakak dalam mengurus bayi, Anda akan terkejut akan kemampuan dia dalam melakukan hal-hal tersbeut dalam usianya yang belia. Saat memandikan misalnya, biarkan si kakak ikut mengusapkan sabun ke badan adik kecilnya sambil berbicara lembut kepadanya. Saat si kecil menangis libatkan si kakak untuk ikut menepuk-nepuk bayi dengan lembut. Jika si kakak meminta untuk menggendong bayi, biarkan si kecil direngkuh dalam pelukannya dengan sandaran bantal di bawahnya, jangan kaget kalau si kakak tiba-tiba seolah-olah ‘melempar’ adiknya dari pelukan, dia masih mengira adiknya seperti mainan.

2. Tanyakan Pendapatnya
Saat memilih baju ganti bayi ajak si kakak bersama dan tanyakan pendapatnya, “sebaiknya adik bayi pake baju yang mana ya sekarang?”. Atau saat akan membacakan buku cerita, ajak si kakak ikut menentukan pilihan “Sebaiknya buku yang mana yang akan kita ceritakan sekarang?”

3. Memandang Adik Kecil Bersama-sama
Ajak si kakak untuk memperhatikan adiknya bersama-sama. Peluk dia dekat bersama adiknya dan mulai menjelaskan satu per satu , “Lihat tuh tangannya adik bayi masih kecil sekali ya…Dan lihat kakinya juga begitu kecil, dan ooh bisa menendang-nendang! Kakak bisa menendang seperti itu ngga? “

4. Bacakan Cerita Tentang Adik dan Kakak
Membaca cerita bersama sang kakak tentang bagaimana adik dan kakak bisa bermain dan menikmati waktu bersama akan membawa kesan positif dalam pikirannya.

5. Memahami Perasaannya
Adalah hal yang wajar apabila si kakak mengalami perasaan yang campur aduk dalam menyambut kedatangan adiknya, bagaimanapun juga ia pernah berada dalam situasi dimana semua perhatian tercurah hanya untuknya, dan sekarang tiba-tiba ia harus berbagi dengan adiknya.
Berbaik hatilah menghadapi tingkah polahnya yang kadang bisa Nampak menjengkelkan, jangan dimarahi tapi ajak ia berbicara dengan empati, katakana padanya “Tampaknya kakak sedih atau marah ya, mau mama peluk? Atau mama bacakan buku sayang?” Atau saat Anda sedang repot mengurus si kecil dan pada saat yang bersamaan si kakak merajuk ingin ini-itu, katakana dengan lembut “sayang, mama sedang mengganti popok adik bayi, nanti setelah ini mama main sama kakak ya anak pinter…” Kadang si kakak hanya ingin menunjukkan perasaannya dan dimengerti oleh Anda.

6. Luangkan Waktu Khusus Bersama Si Kakak
Saat si kecil tidur, luangkan waktu bersama si kakak untuk bermain bersama, walaupun untuk beberapa menit saja. Inilah saat dimana ia merasa spesial dan mengingatkannya bahwa dirinya juga anak mama yang sama disayang.
Ingat bahwa semua anak punya ritmenya sendiri-sendiri, kita harus menghargai itu, sebagian anak cepat untuk beradaptasi dengan situasi baru ini dan sebagian lain membutuhkan waktu yang lebih lama, it’s okay, ini bukan masalah lebih baik atau tidak, it’s just simply different J
And most of all, enjoy your moment…

Sumber: http://www.babycenter.com/0_helping-your-2-year-old-adjust-to-a-new-sibling_3636624.bc

Hasil Penelitian Mengungkapkan Pengaruh Ibu Terhadap Anak Lelakinya

Banyak orang menyangka bahwa jika anak laki-laki bergaul terlalu banyak dengan kaum hawa maka mereka akan tumbuh menjadi ‘keperempuanan’, lemah, cengeng dsb, intinya kehilangan jati diri sebagai seorang laki-laki. Walaupun memang anak laki-laki membutuhkan figure seorang ayah dalam perkembangan hidupnya, ternyata pengaruh interaksi yang baik dan proporsional dengan sang ibu ternyata dapat membantunya menjadi seorang laki-laki yang paripurna.

Dr. William Pollack, seorang asisten professor dari Harvard Medical School mengatakan bahwa, “Berbeda dengan pendapat kebanyakan orang bahwa interaksi yang terlalu intens dengan ibu bisa membuat anak laki-laki menjadi lebih ‘lemah’, justru sebaliknya hal itu dapat membuat anak-anak itu tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara emosional dan psikologis. Kedekatan dengan sang ibu juga tidak membuat anak menjadi tergantung dengan ibunya, malah ia menjadi dasar kuat bagi rasa aman dalam diri sang anak yang kemudian memberinya keberanian untuk menjelajah kehidupan. Dan jauh dari membuat sang anak menjadi ‘keperempuanan’, hubungan yang baik dan penuh cinta dari ibu justru akan membantunya menumbuhkan sisi maskulin dalam dirinya dengan tepat.”
Jadi, apa saja hal-hal yang seorang anak laki-laki bisa dapatkan dari interaksi yang penuh kasih sayang dengan ibunya?

1. MENGATASI STRES
Dari hasil penelitian ditemukan bahwa interaksi yang baik dan penuh kasih sayang antara ibu dan anak mencetuskan dihasilkannya hormon oksitosin, semakin tinggi kadar hormon ini dalam tubuh akan membuat kadar hormon kortisol - atau disebut juga dengan ‘stress hormone’- menurun.

2. MENGALAMI EMOSI YANG LEBIH LENGKAP
Seringkali orang banyak berpendapat bahwa menangis atau bersikap takut bukanlah sifat seorang laki-laki yang baik. Ungkapan bahwa “laki-laki kok nangis…laki-laki kok takut…” sering menjadi bumerang bagi anak laki-laki sehingga mereka akan cenderung untuk menekan perasaannya dan di kemudian hari akan meledak dalam bentuk yang berbeda-beda seperti perilaku agresif, psikosomatik hingga penyimpangan seksual.
Interaksi yang baik antara seorang anak laki-laki dengan sang ibu membuat sang anak belajar sinyal-sinyal emosional dan komunikasi non verbal yang merupakan tanda-tanda untuk mengenali perubahan dalam lingkungan dan kemudian memberikan respon yang tepat untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut, hal ini akan membangun kecerdasan emosional dalam diri sang anak.

3. BELAJAR MEMPERCAYAI SESEORANG
Memasuki usia 15-24 bulan, seorang anak akan mulai ‘mengembangkan sayapnya’ menjelajah dunia baru di sekelilingnya. Ini saat dimana ia belajar arti aman. Ia mulai menapakkan kaki mencoba dan berkenalan dengan dunia baru dan lingkungan di sekitarnya. Pada tahap ini peranan ibu yang memberikan dukungan di dekatnya sangat penting, anak-anak itu perlu mengetahui bahwa ibunya ada di sekitarnya dan dapat diandalkan, hal itu membantu memberikan rasa percaya diri mereka dalam menjelajah dunia luar.

4. BELAJAR EMPATI
Sang ibu yang responsive akan mengajarkan anaknya bagaimana orang lain di sekitarnya akan merasa akibat dari perilaku sang anak atau lingkungan sekitarnya. Saat mendampingi sang buah hati, ajak dia memperhatikan sekitarnya, misalnya ketika siang hari di bawah terik matahari yang menyengat melihat pengemis di pinggir jalan, katakan padanya “Tuh lihat nak, siang-siang panas begini bapak itu malah ada di pinggir jalan sambil ngga pake alas kaki, kan panas ya…pasti dia kehausan juga…kita bantu dia kasih uang supaya bapak bisa beli sendal ya..(sambil menggenggamkan uang dan menuntun anak memberikannya kepada sang pengemis)” atau saat sang anak emosi menunjukkan tantrumnya sambil memukul sang adik yang masih bayi, ajak dia bicara baik-baik sambil berkata “lho, kalau dipukul begitu kan sakit ade-nya kasihan, lebih baik disayang..” (sambil menuntun tangannya membelai sang adik).

5. BELAJAR MENUNJUKKAN KASIH SAYANG
Anak laki-laki yang kerap mendapatkan belaian atau ciuman sayang dari ibunya akan belajar bagaimana menunjukkan rasa kasih sayang.

6. BELAJAR MANDIRI
Rata-rata memasuki usia 18 bulan anak akan mulai punya keinginannya sendiri, selera makan sendiri, kesukaan mainan tersendiri dsb. Sang ibu jangan terintimidasi dengan pilihan kesukaan anak laki-lakinya ini, karena tidak jarang hal ini dirasa mengganggu dan menjengkelkan. Tantangannya memang menjaga keseimbangan antara menjadi orang tua yang suportif serta membiarkan dia melakukan apapun sehingga ia belajar dari pengalamannya sendiri, walaupun kadang itu menyakitkan dan menjaganya sambil memberikan batasan-batasan tertentu.

7. BELAJAR MENGHORMATI ORANG LAIN
Penelitian menunjukkan bahwa anak laki-laki yang kurang baik hubungannya dengan orang tua akan cenderung menjadi nakal di sekolah sebagai pelampiasan kebutuhannya yang tidak terpenuhi. Anak laki-laki yang ibunya tegas tapi penuh kasih menjadikan anak belajar bagaimana menghormati orang lain.

8. BELAJAR MENGONTROL DIRI SENDIRI
Peranan ibu sangat penting dalam mengajari anak laki-lakinya mengendalikan impuls diri yang cenderung kuat. Ketika ibu sanggup membuat batasan dan menerapkan aturan yang cocok pada usia dini, maka di kemudian hari si anak akan tumbuh menjadi individu yang cenderung mudah mengendalikan dirinya sendiri.

Sumber: http://www.mommypage.com/2013/09/studies-show-the-huge-influence-mothers-have-on-their-sons/

Saturday, March 29, 2014

Pengaruh Interaksi Orangtua dan Perkembangan Bahasa Anak

Kemampuan untuk berbicara dan mengerti suatu bahasa adalah salah satu perkembangan penting dalam masa tumbuh kembang anak. Umumnya anak mulai cas-cis-cus bicara pada usia tiga tahun, dan pada usia itu mereka sudah mulai belajar menulis dan membaca. Kemampuan berbahasa yang dimulai dilatih pada masa kecil merupakan dasar yang penting untuk perkembangan bahasa dan literasi di kemudian hari. Anak-anak yang mengalami kesulitan mengerti perkataan orang lain dan mengekspresikan dirinya akan berisiko mengalami gangguan sosial, emosional dan perilaku.
Tiga tahun pertama usia anak adalah masa-masa penting dalam perkembangan bahasa, umumnya anak-anak menghabiskan waktunya dalam asuhan orang tua.

Hart dan Risley (1995) melakukan penelitian terhadap 42 keluarga yang mempunyai anak di bawah 2 tahun, selama satu minggu didapatkan bahwa anak yang berasal dari keluarga berstatus sosial-ekonomi tinggi rata-rata mendengar 215.000 kata, anak dari keluarga  sosial ekonomi menengah rata-rata mendengar 125.000 kata, dan anak dari keluarga sosial-ekonomi rendah rata-rata mendengar 62.000 kata. Kemudian saat anak-anak itu berusia tiga tahun, anak yang berasal dari keluarga sosial-ekonomi tinggi menguasai lebih dari 1000 kata, sedangkan anak dari keluarga sosial-ekonomi rendah menguasai maksimal 500 kata.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Hoff, Laursen dan Tardif (2002) menunjukkan bahwa ibu dari keluarga sosial-ekonomi tinggi bicara dengan anaknya dengan membangun topik bersama, berdiskusi, menanyakan balik mengenai suatu topik atau obyek, perilaku ini berdampak anak menjadi lebih berkembang kosa katanya dan mempunyai kemampuan untuk mengelaborasi suatu subyek pembicaraan lebih luas. Sedangkan ibu dari sosial-ekonomi rendah umumnya bicara dengan anak dengan tujuan mengarahkan perilaku anak, menyuruh ini-itu , melarang ini-itu dsb.

Membacakan anak buku di usia dini terbukti menjadi salah satu sarana efektif dalam perkembangan bahasa, karena buku berfungsi sebagai mediator untuk berdiskusi tentang suatu topik. Hal yang sama juga bisa dilakukan dengan mainan yang bersifat simbolik, misal set peralatan masak, boneka, atau mengajak anak ke perpustakaan atau museum untuk merangsang perkembangan reseptif dan ekspresif bahasa anak.

Tentu ada saatnya ketika anak bermain dengan teman usia sebaya atau keluarganya. Empat penelitian menunjukkan bahwa interaksi dengan  lingkungan sekitar dapat mempengaruhi perkembangan bahasa. Dalam interaksi itu anak juga belajar untuk mengatasi konflik, dan dalam hal ini anak perempuan umumnya lebih baik melakukan hal ini dibanding anak laki-laki.

Selanjutnya ditemukan bahwa kualitas interaksi antara orangtua dan anak yang tinggi terbukti lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan bahasa anak dibanding banyak waktu yang dihabiskan bersama anak dengan kualitas interaksi yang rendah.


Sumber: Keith Topping et al. Parent-infant interaction and children’s language development.  School of Education, University of Dundee, Dundee, UK.

Monday, February 24, 2014

Inilah Beberapa Penyebab Balita Anda Terbangun Di Malam Hari



Salah satu hal yang sering dikeluhkan oleh para orang tua saat berkonsultasi kepada dokter spesialis anak adalah perihal pola tidur sang buah hati. Di Amerika dilaporkan bahwa sebanyak 15-54% balita mengalami gangguan tidur di malam hari dalam kurun 4 tahun pertama usianya.

Penelitian yang dilakukan terhadap 1.200 bayi usia 6 bulan hingga 36 bulan di Amerika menunjukkan beberapa hal yang berpengaruh dalam pola tidur bayi di malam hari.

1. Penyapihan ASI

Biasanya bayi yang baru disapih mengalami kesulitan untuk menenangkan dirinya sendiri saat terbangun di malam hari karena sudah terbiasa tertidur dalam pelukan ibu sambil menyusui.

2. Respon Orang Tua

Beberapa peneliti mengaitkan pola terbangunnya bayi di malam hari dengan respon yang diberikan orang tua saat mereka terbangun dari lelapnya. Dikatakan bahwa orang tua yang berespon terlalu cepat terhadap tangisan anak mengakibatkan anak tidak berkesempatan untuk belajar menenangkan dirinya sendiri sehingga akan menjadi tergantung kepada orang tuanya.

3. Temperamen Anak

Anak yang hipersensitif dan temperamental biasanya tidur lebih singkat dan tidak teratur dan biasanya lebih membutuhkan bantuan orang tua untuk menenangkannya.

4. Ketergantungan Kepada Orang Tua

Anak yang terbiasa tidur didampingi orang tua biasanya lebih cenderung terbangun di malam hari pada usia 17 – 29 bulan, hal ini karena mereka sudah terbiasa dengan pendampingan orang tua, biasanya ibu dan mengharapkan mereka untuk ada di sekitarnya.

Memasuki usia tiga tahun anak mulai dapat mengatasi kejadian terbangun di malam hari, mereka bisa melakukan self-soothing. Walaupun demikian setiap anak berbeda-beda tergantung kepada bawaan temperamennya, masalah medis yang mungkin ada misalkan infeksi telinga, gangguan pencernaan atau saluran nafas yang membuat mereka tidak nyaman tidur; keberlekatan yang berlebihan terhadap orang tua, suasana keluarga yang tidak stabil, maternal depression atau perilaku orang tua saat mereka tidur.


Weinraub, Marsha ; Bender, Randall H. ; Friedman, Sarah L. ; Susman, Elizabeth J. ; Knoke, Bonnie ; Bradley, Robert ; Houts, Renate ; Williams, Jason Eccles, Jacquelynne (editor)
Developmental Psychology, 2012, Vol.48(6), pp.1511-1528







Thursday, February 20, 2014

Usia Dua Tahun Pertama Sebagai Pondasi Bagi Pembentukan Emosi dan Perilaku Anak



Salah satu pilar dalam hubungan orang tua dan anak yang sehat adalah kemampuan untuk membangun dan mengimplementasikan aturan main yang tepat dalam interaksi interpersonal. Disinilah terletak peranan penting para orang tua atau pengasuh dalam mengajarkan sang anak mengenai perilaku yang sesuai dengan budayanya masing-masing.

Penelitian yang dilakukan oleh Sroufe (2005) menyebutkan bahwa usia dua tahun pertama kehidupan anak adalah fase kritis pembentukan dimensi emosi dan perilakunya. Oleh karena itu dibutuhkan pengasuhan yang empati, penuh kasih sayang dan responsif terhadap keadaan psikologis dan kebutuhan anak. Tantangannya adalah sang anak belum bisa mengkomunikasikan kebutuhannya secara baik secara verbal, oleh karenanya kepekaan dan kemampuan membaca bahasa tubuh atau sinyal lain dan sensitive terhadap apa yang menjadi kebutuhan si anak. Semakin orang tua membangun hubungan dengan anak dengan mengantisipasi kebutuhannya, maka kepercayaan anak kepada dirinya dan orang tuanya makin tumbuh, ini adalah proses dasar dalam pembentukan emosi dan merupakan salah satu fase kritis dalam perkembangan anak.

Perkembangan emosi yang stabil dan baik antara orang tua dan anak membantu sang anak untuk membangun landasan kokoh di dalam dirinya yang nantinya akan menjadi pilar kemampuan mereka dalam mengidentifikasi dan mengatasi perasaan yang tidak mengenakkan seperti frustasi dan kesal, terutama saat keinginan mereka tidak terpenuhi dan mereka harus kompromi dengan kenyataan kehidupan.

Membangun suasana emosi yang positif dalam diri anak adalah landasan penting untuk mereka mengatasi konflik dalam hidup, bagi orang tua kemampuan untuk mendengarkan secara empati dan aktif juga menunjukkan ekspresi yang tenang dan stabil adalah salah satu cara mengajarkan kestabilan emosi pada anak. Dikatakan bahwa anak-anak yang hubungan emosinya baik dengan orang tua biasanya tumbuh menjadi anak yang baik dan menyenangkan bagi teman-teman sebayanya, juga ke depan bagi pasangan hidupnya karena mereka bisa menjaga hubungan yang positif dengan orang-orang di sekitarnya. Kuncinya disini adalah pelimpahan cinta dan kasih sayang dari orang tua sejak mereka kecil.

Penting juga untuk menjaga keseimbangan antara menjadi orang tua yang responsif dan juga menegakkan batas-batas disiplin dan aturan. Orang tua yang terlalu permisif dan cenderung mengikuti apa yang anak inginkan juga tidak sengaja mengajarkan perilaku yang kuran baik. Biasanya anak-anak yang tumbuh dengan metoda pengasuhan yang dimanja cenderung mengalami kesulitan mengatur emosi mereka di masa depan, juga berisiko tinggi melakukan perilaku yang menyimpang.

Di lain sisi orang tua yang terlalu kaku dan keras mendidik anaknya, biasanya juga mereka cenderung menaruh harapan yang tidak realistis atas anak-anaknya dan jarang mengekspresikan pujian atau dukungannya akan mengakibatkan anak kesulitan untuk keluar dari ‘cangkang’ yang orang tuanya bentuk, daya kreativitasnya tidak berkembang dan kemampuannya untuk mengatasi masalah cenderung lumpuh. Tidak jarang si anak melampiaskan perasaannya dengan menjadi berandalan dan perilaku yang bersifat menarik perhatian orang tuanya.

Kualitas hubungan anak dan orang tua memang terbukti berpengaruh besar dalam perkembangan kemampuan regulasi emosi si anak. Suatu saat nanti anak pasti akan mengarungi kehidupan yang penuh gejolak emosional dan ketidakpastian. Menanamkan basis emosi yang baik sejak dini akan membantu mereka untuk bisa beradaptasi dengan situasi di masa depan.

Wolfe, David A. ; McIsaac, Caroline
Child Abuse & Neglect, 2011, Vol.35(10), pp.802-813







Tuesday, February 11, 2014

Pengalaman Para Ibu Mengatasi Bayi Menangis Di Tengah Malam

Bayi Anda tiba-tiba terbangun di tengah malam dengan histeris?
Anda mencoba menenangkannya dengan berbagai cara tapi ia tidak kunjung berhanti menangis?

Deborah Lin-Dynken, seorang pakar pediatric sleep disorders mengatakan bahwa hal itu lumrah terjadi pada bayi bahkan mereka yang biasanya tidur dengan nyenyak (best sleepers). Hal itu bisa jadi diakibatkan karena banyak hal, diantaranya kurang waktu tidur, penyakit tertentu, separation-anxiety atau memang suatu fase dalam perkembangan anak.

Berikut adalah pengalaman para ibu dalam menanggulangi hal semacam ini, semoga bermanfaat:

Ø  Bayi saya berusia 7 bulan saya coba menyalakan lampu tidur dan akhirnya dua hari kemudian dia bisa tertidur pulas sepanjang malam, mungkin ia terbangun karena takut gelap?

Ø  Anak saya berusia 13 bulan, ia biasanya tidur jam 8 malam dan akan terbangun tengah malam hampir setiap hari, saya kemudian coba untuk mengganti popoknya dan memakai popok khusus untuk malam untuk penyerapan yang lebih baik, akhirnya ia tertidur pulas seterusnya, mungkin ia merasa tidak nyaman dengan popok yang lembab.

Ø  Anak perempuan saya yang berusia 14 bulan suatu hari menangis meraung-raung dan kami tidak mengerti apa yang menyebabkan demikian, lalu saya gendong dia dan mengajak berjalan-jalan sekitar rumah untuk menenangkannya, lama-lama ia tertidur lagi.

Ø  Anak perempuan saya yang berusia 27 bulan bisa terbangun 1-3 kali dalam semalam sambil menangis histeris, ia akan bangkit dari tempat tidurnya untuk kemudian merebahkan diri di lantai sambil terus menangis dan ia akan terus menangis walau saya sudah coba menggendong dan menenangkannya, biasanya setelah 20 menit kemudian ia baru berhenti menangis dan kembali tidur.

Ø  Anak perempuan saya kini berusia 9 bulan, memang sejak bayi ia punya masalah dengan saluran pencernaan hingga saya herus mengganti susu formulanya dengan susu khusus hingga akhirnya ia bisa tidur dengan tenang.

Ø  Anak saya mulai mengalami kolik dan terbangun tengah malam setelah mulai mendapatkan vaksinasi, komunikasikan hal ini dengan dokter anak anda karena ada efek samping tertentu yang bisa muncul pada setiap bayi.

Ø  Anak saya laki-laki berusia 17 bulan, ia akan bangun 2-3 kali di tengah malam dengan histeris selama 10 hari, lalu kami membawanya ke dokter dan ternyata ia mendapatkan infeksi di kedua belah telinganya.

Ø  Anak perempuan saya berusia 5 bulan dan baru 3 minggu yang lalu mulai tumbuh gigi. Ia mulai terbangun dan menangis di tengah malam, biasanya saya menenangkan ia dengan memeluknya dan memberikan belaian di di pipi atau dahinya dengan selimut yang lembut atau bahan lain yang halus dan itu berhasil membuatnya kembali tertidur.



Sumber Bacaan:
http://www.babycenter.com/404_why-is-my-baby-suddenly-waking-up-hysterical-at-night_1292617.bc