"Anak saya sudah mulai jalan sejak usia 8 bulan"
"Anak saya dong, lulus SD di usia 10 tahun"
"Eh itu belum seberapa, anaknya si anu sudah jadi profesor di usia 18 tahun!"
"Anak saya dong, lulus SD di usia 10 tahun"
"Eh itu belum seberapa, anaknya si anu sudah jadi profesor di usia 18 tahun!"
Demikian kutipan percakapan di sebuah forum chat yang bikin saya geleng-geleng kepala. Tampaknya membesarkan anak sudah menjelma menjadi kompetisi atau lomba tentang siapa paling cepat tumbuh atau paling segera lulus. Padahal setiap anak adalah unik dan memerlukan waktu tumbuh kembangnya masing-masing yang sama sekali tidak bisa dijadikan patokan bahwa yang satu lebih baik daripada yang lain.
Buah mangga misalnya baru baik untuk dipanen sekitar usia 58-119 hari sedangkan buah durian umumnya baru matang dan siap dipanen pada usia 8 - 10 tahun. Lalu kita kan tidak serta merta mengatakan buah mangga lelet? It's simply a different fruit!
Setiap anak membawa benih suci dari Allah Ta'ala yang dapat diidentifikasi melalui potensi akademik, musik, empati, seni dan hal lain yang sangat luas. Tugas orang tua bagaikan seorang bidan yang mengidentifikasi bakat dan membantu seseorang melahirkan 'anak-anak'nya yang berupa kapasitas diri yang juga berkaitan erat dengan kemisian hidup seorang insan. Jadi please, berhenti membanding-bandingkan anak kita dan biarkan mereka bertumbuh kembang mengikuti fitrahnya sendiri.