Friday, July 25, 2014

Tips Menjawab Pertanyaan Anak Mengenai Tuhan



“Siapa sih orangtuanya Tuhan itu?” “Kalau Tuhan Maha Kuasa kenapa Dia tidak mencegah hal-hal buruk terjadi di bumi?” “Apakah Tuhan benar-benar mendengar doa kita?” dan sekian banyak pertanyaan lugas meluncur dari lisan si buah hati yang masih polos.

Biasanya orang tua ‘ngeles’ jika ditanya anak hal-hal yang berkaitan dengan Tuhan, entah karena berpendapat belum saatnya berbicara ‘serius’ dengan anak atau memang orang tua juga dibikin pusing oleh pertanyaan-pertanyaan mendasar dan brilian khas anak yang lugu.

Sebenarnya berbicara mengenai Tuhan merupakan hal yang penting dalam perkembangan jiwa anak, supaya ia belajar akan adanya sesuatu yang bernilai lebih dari apa-apa yang bersifat material. Mengajarkan anak tentang Tuhan dan sifat-sifat-Nya akan memberikan dasar yang kuat bagi perkembangan spiritualnya di masa datang. Berikut adalah beberapa tips dalam berkomunikasi dengan anak tentang Tuhan:

1. Metode Dialog (Ajukan pertanyaan).
Apabila anak bertanya ini dan itu, jangan panik dan bersifat defensif atau bahkan jawab ngasal dengan jawaban sotoy  (sok tahu). Misalkan si kecil bertanya, “Kalau Tuhan punya ayah ngga ya?” sebelum buru-buru jawab coba dulu tanya balik sang anak, “menurut kakak bagaimana?” Penelitian menunjukkan bahwa hampir semua anak mulai usia enam tahun sudah berkembang konsep pemikirannya mengenai Tuhan. Pertanyaan itu akan merangsang mereka untuk menjawab dengan jawaban yang jujur, di titik ini coba untuk tidak menjejali mereka dengan prekonsepsi kita, biarkan sang anak berpikir dan menggunakan imajinasinya untuk membayangkan apa dan siapa itu Tuhan.

2. Memperkenalkan Tuhan Melalui Cerita
Menceritakan cerita tertentu kepada anak adalah salah satu cara untuk membentuk karakter anak. Untuk memperkenalkan Tuhan, ceritakan kepada mereka kisah-kisah dari kitab suci, legenda kepahlawanan atau kisah nyata yang menyentuh. Sisipkan disitu nilai-nilai dan sifat Ketuhanan. Dengan cara ini anak lebih mudah menangkap suatu konsep, karena memperkenalkan sesuatu diiringi contoh dibandingkan dengan kalimat yang abstrak. Misalnya, alih-alih mendengung-dengungkan kepada anak bahwa Tuhan itu Maha Kuasa, ajak mereka untuk melihat sifat Tuhan dengan lebih spesifik, misal “Tuhan adalah Dia yang bisa menghidupkan orang mati” (misal belajar dari kisah Nabi Isa as atau Nabi Ilyas as yang menghidupkan orang mati dengan ijin Tuhan).

3. Perkenalkan Tuhan Dalam Keseharian
Sesering mungkin bawa Tuhan dalam aktivitas yang sehari-hari dilakukan, misal “Nak, bantu ibu masak yuk! Ini kita dapat rejeki dari Tuhan sehingga bisa membeli makanan ini. Dan tahu ngga makanan ini semua bisa tumbuh dengan baik dengan kuasa Tuhan.” Manakala sedang jalan-jalan dan melihat sesuatu yang indah katakan “Subhanallah, luar biasa indahnya ya nak ciptaan Tuhan.”

4. Jangan Terpancing Emosi atau Bersikap Defensif
Anak, khususnya saat mereka memasuki fase remaja muda biasanya mempunyai banyak pertanyaan tentang “bukti-bukti bahwa Tuhan ada”. Kadang pertanyaan mereka bisa dianggap “tidak masuk akal” dan membuat orang tua kelabakan untuk menjawab. Hal utama yang harus dilakukan para orang tua adalah bersikap tenang dan selalu terbuka. Biarkan anak merasa bahwa mereka bisa dengan aman menanyakan apapun , terutama isu penting tentang Ketuhanan, dan bisa mengutarakan pendapatnya kepada orang tua mereka.

5. Berikan Jawaban Yang Baik
Hanya karena mereka tampaknya masih anak kecil bukan berarti orang tua bisa asal memberikan jawaban. Memang seringkali tidak ada jawaban yang presisi atas pertanyaan-pertanyaan yang brilian, tapi setidaknya ada jawaban yang baik. Cobalah jangan memberikan jawaban yang sekenanya supaya mereka berhenti bertanya, padahal bisa jadi jawaban ‘ngasal’ itu yang melekat kuat dalam memori mereka hingga dewasa, maka tidak menutup kemungkinan mereka harus menghadapi konflik dalam dirinya untuk mengerti jawaban yang ditanamkan orang tua jauh-jauh hari dengan kenyataan yang mereka hadapi saat mereka dewasa. Kalaupun orang tua tidak tahu jawabannya akan lebih adil jika katakan apa adanya, “Hei, itu pertanyaan yang sangat bagus, mari kita cari sama-sama jawabannya!”. Atau jika pertanyaan itu agak susah jika diterangkan secara konseptual maka bawa ke tataran contoh yang nyata. Misalkan seorang anak bertanya “Kalau Tuhan ada di mana-mana, apakah Dia sekarang ada di dalam kantung saku saya?” Jawabannya bisa jadi dengan menjelaskan antara hal yang fisik (Nampak) dan non-fisik. Misalkan rasa cinta adalah sesuatu yang bisa dirasakan, tapi kalau disuruh menunjukkan dimana rasa cinta berada, sulit untuk menunjuknya dengan tepat, akan tetapi kita bisa merasakannya, nah hal yang sama dengan Tuhan.


Yang menarik adalah semua pertanyaan anak adalah murni dan tanpa pretensi, kadang kita juga sering diingatkan melalui pertanyaan-pertanyaan lugu mereka akan hal-hal yang bersifat fundamental namun kita cenderung acuhkan atau merasa sudah mengerti. Bagaimanapun anak adalah guru kita juga yang Tuhan kirim dari surga-Nya  :)

Referensi : http://www.jewishfederations.org/page.aspx?id=11672

Thursday, July 10, 2014

Cara Orangtua Mendidik Anak Menurut Bawa Muhaiyyaddeen


Sadarilah bahwa anak meniru semua gerak-gerik orangtuanya baik yang nampak maupun tidak. Setiap kata yang Anda ucapkan, cara bergaul dengan sesama, sikap suami terhadap istri dan istri terhadap suami, bahkan hal-hal yang tidak tampak seperti kecemasan, keluhan, sifat sabar, pemaaf, toleran semuanya akan diserap dan ditiru.
Jika orang tua mencontohkan sifat-sifat baik, maka anak akan meniru berbuat baik. Jika orang tua gemar membincangkan hikmah dan iman kepada Tuhan, maka anak pun akan mengikuti. Jika orang tua berwajah cerah ceria, anak pun akan menampilkan keceriaan kepada setiap orang. Sebaliknya jika orang tua sering marah, anak pun akan kerap menunjukkan amarah.
Demikianlah, kedua orang tua adalah guru pertama sang anak sebelum mereka memasuki dunia sekolah. Di saat inilah kedua orang tua harus berjuang untuk menanamkan sifat-sifat baik sebanyak mungkin kepada anak, karena apa yang dipelajari pada fase pertama pendidikannya di dunia adalah bagai mengukir di atas batu, ia akan terpatri di dalam hati anak yang paling dalam (qalb). Apabila orang tua tidak berbohong, anak tidak akan berbohong; jika orang tua sering berseteru, anak akan menirunya, jika suami istri saling menghargai, anak akan belajar menghargai, jika kedua orang tuanya saling mencintai, anak akan menampakkan kualitas-kualitas cinta.
Maka nilai apapun yang orang tua akan tanamkan kepada anak baru akan berhasil jika hal itu sudah dimiliki dan diamalkan olehnya. Anak tidak akan belajar sabar jika dalam hati orang tuanya masih didominasi oleh keluhan. Anak tidak akan tumbuh menjadi pemberani dalam kehidupan jika dalam hati orang tuanya masih penuh dengan ketakutan akan hari esok. Anak tidak akan belajar memaafkan jika rasa dendam masih menyala-nyala dalam hati orang tua.
Beginilah caranya orang tua mengajarkan anaknya, mereka menyatakan sesuatu tanpa harus bicara, menunjukkan sesuatu tanpa harus mendemonstrasikannya, yang mereka lakukan adalah mengamalkannya dalam keseharian.
Inilah jihad orang tua untuk memutus sayyiah (sifat-sifat buruk) kepada anaknya.
(Terjemahan Bebas dari "Raise the Children with God's Psychology" oleh Bawa Muhaiyyaddeen. Fellowship Press, 2007)

Tuesday, July 8, 2014

Pesan Bawa Muhaiyyaddeen Kepada Guru

Seorang guru bertanya kepada Bawa Muhaiyyaddeen tentang bagaimana cara mengajar yang baik kepada anak didiknya yang duduk di sekolah menengah atas.Ia itu berkata apabila ia bersikap terlalu baik anak-anak itu melunjak, cenderung tidak menunjukkan rasa hormat dan bahkan tidak mengerjakan instruksinya. Sebaliknya jika ia terlalu keras mereka akan berontak, marah dan bahkan dapat membalas dengan cara yang kasar.

Bawa Muhaiyyadden - sang guru sufi kemudian berkata:
Sebagaimana seseorang yang minta dipangkas rambutnya pada seorang tukang gunting rambut, maka itu baru bisa terjadi bila orang tersebut duduk diam dan tenang supaya sang tukang gunting rambut bisa mengerjakan tugasnya dengan baik dengan hasil yang diinginkan. Demikian halnya dengan mengajar.

Sebelum mulai pengajaran yang Anda harus lakukan begitu memasuki ruang kelas adalah mengajak semua anak berdoa kepada Tuhan selama dua menit. Luruskan niat hanya untuk-Nya. Katakanlah kepada para murid, "Anak-anak mari kita berdiri dan berdoa kepada Tuhan dari lubuk hati yang paling dalam." Jadikan itu kebiasaan sebelum Anda memulai pengajaran. Ikutlah berdiri dan berdoa dengan khusyu bersama para anak didik.

Setelah itu ceritakan kepada mereka kata-kata hikmah yang penuh cinta selama sekitar lima menit, lalu katakan kepada mereka,

"Anak-anakku yang tersayang, saya berdiri di sini sebagai guru dan kalian semua sebagai murid. Seyogyanya tercipta rasa kesatuan dan harmoni antara guru dan murid-muridnya, sebagaimana terciptanya persatuan dan harmoni antara Tuhan dan hamba-Nya. Demikian pula hati kita harus bersatu dan selaras dengan kebenaran. Kita mesti menjalani hidup dalam harmoni dan selaras dengan Yang Maha Pencipta.

Anak-anakku yang tercinta, agar pelajaran yang diberikan bisa diserap dan dimengerti dengan baik, maka kalian harus menaruh kepercayaan penuh pada saya sebagai guru. Hanya dengan cara ini - saat hati dan pikiran kita tersambung maka pencerahan ilmu pengetahuan dapat diraih."

Kemudian, mari kita renungkan sejenak tentang kehidupan. Ketahuilah bahwa apapun kebiasaan yang kita lakukan saat muda akan tertanam kuat terbawa hingga mati. Apabila sejak muda kita terbiasa berbuat baik dan memiliki pergaulan yang baik, maka itu akan menjadi bagian yang akan selalu ada dalam diri kita. Apabila sejak muda kita belajar hikmah dalam hidup, maka ajaran itu akan terus bersinar di dalam dada kita masing-masing.

Masa-masa sekolah seperti ini akan cepat sekali berakhir. Hidup di dunia ini sungguh secepat kilat. Saat kita dilahirkan, selama dua tahun lamanya kita dalam asuhan ibunda. Sejak usia tiga hingga lima tahun kita mulai senang bermain, mulai mengenal angka, huruf dan senang bermain dengan berbagai macam mainan. Lalu saat mulai sekolah hingga usia sekitar 18 tahun kita mulai mengenal jauh lingkungan sekitar, biasanya banyak hal terjadi di sini, termasuk hal yang kurang baik atau kurang berkenan, apakah itu berkaitan dengan lingkungan teman, tetangga atau keluarga. Hal-hal seperti itu dapat mengganggu jalannya proses belajar dan perkembangan jiwa masing-masing.

Oleh karena itu, Anda sudah tidak boleh  main-main lagi memasuki masa tersebut dan harus mulai belajar dan mempraktikkan nilai-nilai kebajikan. Anda harus mulai belajar bertanggung jawab untuk menunaikan kewajiban Anda sebagai pelajar, sebagai anak, sebagai tetangga dsb. Ketahuilah bahwa masa sekolah yang sekejap ini akan menorehkan arah kehidupan Anda di masa yang akan datang. Apabila sejak sekarang Anda tidak bekerja keras untuk mempelajari kebaikan, tidak serius dalam menuntut ilmu, maka hidup Anda selanjutnya akan sulit dan penuh dengan penderitaan. Inilah periode emas dimana Anda harus belajar nilai-nilai kasih, sabar, toleran dan perdamaian. Kadang Anda harus mempelajari semua nilai itu dengan cara yang tidak mengenakkan dan harus menjalani kehidupan yang sulit.

Bahkan saat Anda merasa tidak suka dengan sifat guru Anda tetaplah diam dan pelajari ajaran yang disampaikannya baik-baik. Berjuanglah untuk senantiasa menunjukkan antusiasme dalam belajar, hanya dengan cara ini Anda akan sukses dalam kehidupan. Jangan sia-siakan masa belajar ini! Nanti setelah Anda lulus masih ada waktu untuk bermain-main, namun sekarang bukan saatnya. Karena ini adalah masa yang sangat genting bagi perkembangan jiwa Anda.

Saat inilah dimana badan Anda sedang dalam masa puncak, pikiran Anda sedang dalam energi optimalnya. Inilah saat yang tepat untuk menyerap ilmu dan hikmah sebanyak mungkin, inilah saat untuk meraup harta karun yang tak ternilai di dunia ini. Disinilah titik genting dalam rentang kehidupan Anda, apa yang Anda lakukan di episode ini adalah gambaran Anda di masa depan. Sadarilah hal ini dan gunakan waktu dengan bijak."

Awali setiap pengajaran dengan hal seperti ini, mulai dengan berdoa kemudian ajarkan mereka sepenggal hikmah kehidupan. Jika Anda lakukan ini, maka murid-murid Anda akan lebih patuh dan mulai mendengarkan dengan seksama.

(Terjemahan bebas dari Questions of Life Answers of Wisdom. Fellowship Press)