“Siapa sih orangtuanya Tuhan itu?” “Kalau Tuhan Maha Kuasa
kenapa Dia tidak mencegah hal-hal buruk terjadi di bumi?” “Apakah Tuhan
benar-benar mendengar doa kita?” dan sekian banyak pertanyaan lugas meluncur dari
lisan si buah hati yang masih polos.
Biasanya orang tua ‘ngeles’ jika ditanya anak hal-hal yang
berkaitan dengan Tuhan, entah karena berpendapat belum saatnya berbicara
‘serius’ dengan anak atau memang orang tua juga dibikin pusing oleh
pertanyaan-pertanyaan mendasar dan brilian khas anak yang lugu.
Sebenarnya berbicara mengenai Tuhan merupakan hal yang
penting dalam perkembangan jiwa anak, supaya ia belajar akan adanya sesuatu
yang bernilai lebih dari apa-apa yang bersifat material. Mengajarkan anak tentang
Tuhan dan sifat-sifat-Nya akan memberikan dasar yang kuat bagi perkembangan
spiritualnya di masa datang. Berikut adalah beberapa tips dalam berkomunikasi
dengan anak tentang Tuhan:
1. Metode Dialog
(Ajukan pertanyaan).
Apabila anak bertanya ini dan itu, jangan panik dan bersifat
defensif atau bahkan jawab ngasal dengan jawaban sotoy (sok tahu). Misalkan si kecil bertanya,
“Kalau Tuhan punya ayah ngga ya?” sebelum buru-buru jawab coba dulu tanya balik
sang anak, “menurut kakak bagaimana?” Penelitian menunjukkan bahwa hampir semua
anak mulai usia enam tahun sudah berkembang konsep pemikirannya mengenai Tuhan.
Pertanyaan itu akan merangsang mereka untuk menjawab dengan jawaban yang jujur,
di titik ini coba untuk tidak menjejali mereka dengan prekonsepsi kita, biarkan
sang anak berpikir dan menggunakan imajinasinya untuk membayangkan apa dan
siapa itu Tuhan.
2. Memperkenalkan
Tuhan Melalui Cerita
Menceritakan cerita tertentu kepada anak adalah salah satu
cara untuk membentuk karakter anak. Untuk memperkenalkan Tuhan, ceritakan
kepada mereka kisah-kisah dari kitab suci, legenda kepahlawanan atau kisah
nyata yang menyentuh. Sisipkan disitu nilai-nilai dan sifat Ketuhanan. Dengan
cara ini anak lebih mudah menangkap suatu konsep, karena memperkenalkan sesuatu
diiringi contoh dibandingkan dengan kalimat yang abstrak. Misalnya, alih-alih
mendengung-dengungkan kepada anak bahwa Tuhan itu Maha Kuasa, ajak mereka untuk
melihat sifat Tuhan dengan lebih spesifik, misal “Tuhan adalah Dia yang bisa
menghidupkan orang mati” (misal belajar dari kisah Nabi Isa as atau Nabi Ilyas
as yang menghidupkan orang mati dengan ijin Tuhan).
3. Perkenalkan Tuhan
Dalam Keseharian
Sesering mungkin bawa Tuhan dalam aktivitas yang sehari-hari
dilakukan, misal “Nak, bantu ibu masak yuk! Ini kita dapat rejeki dari Tuhan
sehingga bisa membeli makanan ini. Dan tahu ngga makanan ini semua bisa tumbuh
dengan baik dengan kuasa Tuhan.” Manakala sedang jalan-jalan dan melihat
sesuatu yang indah katakan “Subhanallah, luar biasa indahnya ya nak ciptaan
Tuhan.”
4. Jangan Terpancing
Emosi atau Bersikap Defensif
Anak, khususnya saat mereka memasuki fase remaja muda
biasanya mempunyai banyak pertanyaan tentang “bukti-bukti bahwa Tuhan ada”.
Kadang pertanyaan mereka bisa dianggap “tidak masuk akal” dan membuat orang tua
kelabakan untuk menjawab. Hal utama yang harus dilakukan para orang tua adalah
bersikap tenang dan selalu terbuka. Biarkan anak merasa bahwa mereka bisa
dengan aman menanyakan apapun , terutama isu penting tentang Ketuhanan, dan
bisa mengutarakan pendapatnya kepada orang tua mereka.
5. Berikan Jawaban
Yang Baik
Hanya karena mereka tampaknya masih anak kecil bukan berarti
orang tua bisa asal memberikan jawaban. Memang seringkali tidak ada jawaban
yang presisi atas pertanyaan-pertanyaan yang brilian, tapi setidaknya ada
jawaban yang baik. Cobalah jangan memberikan jawaban yang sekenanya supaya
mereka berhenti bertanya, padahal bisa jadi jawaban ‘ngasal’ itu yang melekat
kuat dalam memori mereka hingga dewasa, maka tidak menutup kemungkinan mereka
harus menghadapi konflik dalam dirinya untuk mengerti jawaban yang ditanamkan
orang tua jauh-jauh hari dengan kenyataan yang mereka hadapi saat mereka
dewasa. Kalaupun orang tua tidak tahu jawabannya akan lebih adil jika katakan
apa adanya, “Hei, itu pertanyaan yang sangat bagus, mari kita cari sama-sama
jawabannya!”. Atau jika pertanyaan itu agak susah jika diterangkan secara
konseptual maka bawa ke tataran contoh yang nyata. Misalkan seorang anak
bertanya “Kalau Tuhan ada di mana-mana, apakah Dia sekarang ada di dalam
kantung saku saya?” Jawabannya bisa jadi dengan menjelaskan antara hal yang
fisik (Nampak) dan non-fisik. Misalkan rasa cinta adalah sesuatu yang bisa
dirasakan, tapi kalau disuruh menunjukkan dimana rasa cinta berada, sulit untuk
menunjuknya dengan tepat, akan tetapi kita bisa merasakannya, nah hal yang sama
dengan Tuhan.
Yang menarik adalah semua pertanyaan anak adalah murni dan
tanpa pretensi, kadang kita juga sering diingatkan melalui
pertanyaan-pertanyaan lugu mereka akan hal-hal yang bersifat fundamental namun
kita cenderung acuhkan atau merasa sudah mengerti. Bagaimanapun anak adalah
guru kita juga yang Tuhan kirim dari surga-Nya :)
Referensi : http://www.jewishfederations.org/page.aspx?id=11672