Monday, August 21, 2017

Jangan Abaikan Pertanyaan Anak Sekonyol Apapun

Feynman kecil suatu hari menarik-narik kereta mainan dengan bola di atasnya yang menggelinding setiap kali ia menggerakkan keretanya. Fenomena ini membuatnya terpana hingga ia bertanya kepada ayahnya, "Ayah kenapa bola itu bergerak kalau saya tarik keretanya?". Sang ayah menjawab singkat "Itu inersia". Lalu sang anak kembali bertanya, "Apa itu inersia?" Dan sang ayah kembali menjawab dengan santai, "Ya itu gaya yang membuat bola bisa bergerak." :)

Sekian puluh tahun kemudian sang anak yang bernama lengkap Richard Phillips Feynman menjadi fisikawan handal yang dikenal dengan teori "quantum electrodynamics" dan memperoleh penghargaan Nobel di tahun 1965.

Saat diwawancara Feynman mengatakan bahwa percakapan singkat dengan ayahnya di masa kecil tentang bola yang bergerak di atas kereta dorong dan inersia memberikan ia inspirasi untuk mendalami fisika.

Banyak ilmuwan yang mendapatkan inspirasi dari hal-hal keseharian saat masa kecilnya. Sebuah pesan bagi para orang tua atau mereka yang mengasuh anak-anak yang imajinasinya belum terbatas oleh waham-waham dan tembok-tembok ilusi dunia. Biarkan anak-anak bertanya dan jawab pertanyaan mereka dengan sebaik-baiknya, bahkan pertanyaan yang kita anggap konyol sekalipun. Siapa tahu hal itu yang menginspirasi dia dan menemukan jalur hidup yang sesuai dengan kata hatinya.

Keingintahuan itu sangat baik dan biarkan ia terus tumbuh yang dengannya sang mata air pengetahuan akhirnya akan diraih. Meminjam kata salah satu jenius sepanjang masa, Albert Einstein:
"I am not a genius, I am just curious. I ask many questions. and when the answer is simple, then God is answering."



Saturday, August 5, 2017

Peran Perempuan Di Penggal Awal Usia Anak : Memberi Makanan Lahir Batin

Kegiatan memasak serius (bukan sekadar masa air atau masak mie instan) baru saya lakoni sejak menikah dan hijrah ke Belanda. Dengan bantuan mbah gugel saya mencoba berbagai resep yang alhamdulillah di awal-awal waktu banyak gagalnya, dari mulai masak sop yang gosong dan menghitam sampai pancinya dibuang, masak steak kurang mateng karena api kegedean, bikin nasi goreng keasinan, sampai menjamu tamu orang Belanda dengan niat memperkenalkan masakan Indonesia dengan masak sayur rebung pake pete walhasil orang itu sampai sekarang ngga nampak batang hidungnya, kasih kabar juga tidak #oops

Sekarang masakan saya sudah mulai 'eatable' :D Terakhir bikin ayam goreng bumbu kuning dengan sop sampai suami habis dua piring penuh senang rasanya. Ternyata memasak salah satu skill penting yang harus diajarkan baik kepada perempuan maupun laki-laki., apalagi keahlian ini wajib bagi perempuan sebagaimana pesan guru saya, "Peran perempuan adalah membentuk anak menjadi besar di awal harinya" Selain memberikan nutrisi batin berupa pendidikan yang benar juga nutrisi lahirnya dengan menyiapkan makanan yang baik. Apalagi kalau anak lebih dari satu dan setiap anak punya selera makanannya masing-masing, kita harus menyesuaikan untuk memastikan kecukupan gizinya.

Di tengah kisruh tentang manfaat dan mudharat memberikan vaksinasi untuk anak, kita juga harus mawas diri atas setiap suapan yang masuk ke dalam anak kita. Karena ia bisa jadi racun atau jadi obat bagi badannya. Seperti kata bapak kedokteran Hippocrates, “Let food be your medicine and medicine be your food.”

Friday, August 4, 2017

Why Do People Bully?

Sebuah survei yang mewawancarai 8.850 orang dengan topik 'bullying' menunjukkan bahwa anggapan banyak orang kalau korban bullying biasanya orang dengan karakteristik tertentu misal penampilan fisik, ras, seksualitas dll yang memancing orang cenderung membully tidak sepenuhnya tepat. Faktor internal pembully ternyata lebih banyak memegang peran penting.

Satu dari dua orang dikatakan pernah merasakan dibully dalam rentang usia sebelum 20 tahun. Tergantung derajat  keparahan bullying sayangnya hal tersebut akan meninggalkan luka psikis dalam kehidupan seseorang. Dalam kondisi tertentu sang korban bisa merasa tidak aman dan secara tidak sadar mulai mengganti penampilan dan tingkah laku demi diterima dan aman dari gangguan para pembully, sedemikian rupa hingga ia pun tak segan-segan merubah identitas dan kesenangan yang berasal dari natur dirinya yang sejati.

Lantas mengapa seseorang bisa tega mem-bully orang lain?

Dari survei terhadap 8.850 orang, sebanyak 1.290 orang diantaranya mengaku pernah mem-bully orang lain. Kemudian ditemukan bahwa mereka yang melakukan bully rata-rata dalam hidupnya pernah atau tengah mengalami tekanan hidup (stress) yang demikian kuat, misalnya kehilangan salah satu orang tua atau perceraian orang tua yang diikuti oleh disharmoni (penekanannya bukan pada perceraian akan tetapi ketegangan yang dihasilkan oleh kedua orang tua). Penelitian itu menunjukkan bahwa mereka yang tidak tahu bagaimana harus merespon episode berat dalam kehidupannya akan cenderung melukai orang lain sebagai mekanisme kompensasi.

Satu dari tiga orang yang pernah melakukan bully mengatakan bahwa ia merasakan kehidupan keluarga yang kurang hangat. Mereka merasa orang tuanya atau pengasuhnya tidak benar-benar terlibat atau memberikan perhatian yang cukup kepadanya. Tidak jarang juga mempunyai perasaan seolah ditolak oleh mereka yang diharapkan menjadi pilar dalam asuhan di keluarga. Para pem-bully juga biasanya meniru kekerasan yang terjadi di dalam keluarganya. 

Anak pada dasarnya hanya membutuhkan rasa aman untuk bisa tumbuh kembang dengan baik. Saat mereka tidak mendapatkan kehangatan kasih sayang dalam lingkungan awal dimana ia berasal dan bertumbuh maka ia akan mencari-cari jalan untuk menyelamatkan diri. Ada yang kompensasinya positif melalui berbagai kegiatan yang konstruktif namun tidak sedikit yang jatuh ke lembah hitam dan terjebak dalam lingkaran setan seumur hidupnya. 

Para pem-bully adalah individu-individu yang menderita defisiensi cinta dan haus akan kasih sayang. Mereka memproyeksikan kepedihan hatinya dengan ingin membuat orang lain juga menderita  demi sekadar memuaskan rasa hampa dalam batinnya.

“People who love themselves, don’t hurt other people. The more we hate ourselves, the more we want others to suffer.” 
― Dan Pearce, Single Dad Laughing

Tuesday, March 21, 2017

Setiap Anak Adalah Seorang Filsuf

SETIAP ANAK ADALAH SEORANG FILSUF

"Ma, apakah kita sekarang sedang bermimpi?"
"Sama sekali tidak sayang." jawab si mama dengan pede.
"Mama yakin?"
Mama: ....

Demikian cuplikan dialog antara seorang ibu dengan lelakinya yang berusia 3 tahun. Pertanyaan yang sama dilontarkan oleh Rene Descartes, filsuf berkebangsaan Perancis di abad ke-17, "Bagaimana seseorang bisa yakin bahwa ia tidak tengah bermimpi?"

Anak-anak secara natur adalah seorang filsuf. Filosofi berasal dari kata berbahasa Yunani "philo", berarti cinta dan "sophos" yang bermakna hikmah. Sejak kecil anak-anak dengan fitrahnya yang masih murni senang mempertanyakan semua hal, keping-keping pengetahuan yang membangun konsep besar dari seluruh alam ciptaan.

Selain itu imajinasi anak yang belum terpasung oleh sekat-sekat normatif memungkinkan ia melihat fenomena dari berbagai sudut. Contohnya ada dalam dialog antara Ali, seorang anak lelaki berusia lime tahun yang tiba-tiba berceletuk kepada tantenya, "Tante, masa depan kita bisa berpengaruh kepada masa lalu ya?". Sang tante yang sedang lincah menggerakkan jari jemarinya di layar smartphone langsung tersenyum geli - seraya mentertawakan ungkapan keponakannya- "Ya ngga lah, yang benar itu masa lalu berpengaruh membentuk masa depan kita". Sang tante yang memang bukan filsuf dan tidak juga tertarik untuk berpikir dalam menampik ajakan sang keponakan untuk mengeksplorasi kemungkinan "masa depan bisa berkontribusi kepada masa lalu seseorang". Kemudian kakaknya, yang berusia 9 tahun dan masih belum begitu "terpasung" alur berpikirnya mencoba mendukung gagasan sang adik, "Maksudnya mungkin begini tante, kalau seseorang belajar dengan baik hari ini, tentu ia akan meraih hasilnya berupa nilai yang bagus. Nah ketika seseorang berpikir tentang kebaikan yang akan dipetik di masa depan dan membuat ia lebih termotivasi untuk belajar disitulah peran masa depan bisa berkontribusi kepada masa lalu seseorang." Sang kakak menjelaskan dengan antusias dan berharap mendapatkan respon yang positif dari sang tante.

Si tante kemudian mengalihkan pandangannya dari layar smartphone yang sejak tadi menyerap seluruh waktu dan - sepertinya juga jiwanya - kemudian menatap dua bersaudara itu dalam-dalam, kemudian berkata "Kalian ini ada-ada saja. Itu adalah pemikiran yang salah. Yang benar adalah masa lalu kita membentuk masa depan. Titik"
Sambil lanjut meraih benda elektronik kotak yang menyerap demikian banyak waktu dan perhatiannya selama beberapa tahun terakhir.
Sang adik dan kakak hanya saling berpandangan dan melempar senyuman penuh arti seakan berkata "hopeless...".

Setiap anak adalah seorang filsuf, jiwa suci yang rindu akan sebuah nilai kebenaran (al haq). Dan perjalanan awal untuk menelusuri jalan pengenalan alam dan dirinya adalah dengan mempertanyakan semua hal. Adalah sang dewasa yang sudah terjerat oleh "rutinitas harian" yang kerap tidak sabar dalam melayani keingintahuan anak yang begitu menggelora. Sehingga ungkapan seperti, "udah jangan banyak tanya!" atau jurus mengalihkan seperti "sudah malam ayo tidur!" secara tidak sadar lambat laun memudarkan pijar daya tafakur dalam diri anak. Setidaknya, kalaupun kita pun tidak mengetahui jawabannya, jujur saja dengan berkata "Wah, mama juga belum tahu, mari kita cari sama-sama jawabannya.". Apapun itu jangan sampai api semangat anak dalam mencari kebenaran padam. Seperti sang maestro seni Picasso katakan, "Setiap anak terlahir menjadi seniman. Masalahnya adalah bagaimana untuk menjaga jiwa seni sang anak hingga ia dewasa.". Anak-anak kita - termasuk kita sendiri - terlahir sebagai filsuf, kita cinta kebenaran dan jiwa kita akan selalu mencari informasi tentang Sang Al Haq yang tak jarang harus didapatkan dengan mempertanyakan sebuah konsep kebenaran yang sedang kita genggam per saat ini. Karena kebenaran yang diyakini di satu hari bisa jadi berhala di hari lain. Benar kiranya apa kata Socrates, "A life that is not questioned is not worth living."

(Referensi : "Every child is a philosopher". Dr. Bahar Eris. Seorang akademisi dan penulis yang memperdalam pendidikan dan perkembangan bakat pada anak-anak. Associate Professor di Bahcesehir International University, Turki.)