Wednesday, May 21, 2014

Dasar-Dasar Pendidikan Anak Menurut Platon

Plato banyak mencurahkan perhatiannya kepada pendidikan anak sebagai generasi penerus bangsa. Oleh karenanya ia berpendapat bahwa pendidikan anak seharusnya menjadi tanggung jawab negara (Republic, 2, 376)dimana setiap anak wajib mendapatkan pendidikan yang layak. Selanjutnya negara sepatutnya mengelola dengan baik pembiayaan untuk para pendidik serta semua staf yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan. (Laws, 7, 764, 804, 813)

Prinsip dasar pendidikan anak menurut Plato adalah bahwa anak tidak dididik untuk dijadikan komoditas kehidupan semata dimana pendidikan berorientasi pada pemenuhan suplai tenaga kerja dan dengan demikian manusia dibentuk tidak ubahnya seperti robot-robot yang dipersiapkan untuk menjadi budak-budak mesin industri dalam kehidupan. Dalam jargon umum yaitu: sekolah tinggi – dapat kerja dengan gaji bagus – berkeluarga – membangun kemapanan kehidupan dan mati dalam keadaan sejahtera. Menurut Plato pendidikan selayaknya untuk menghasilkan henersai yang mempunyai hasrat untuk menjadi perfect citizen, dalam arti orang yang mengerti fungsi dan peranan dirinya dalam masyarakat. (Laws, 1, 643). Selanjutnya Plato juga menekankan pendidikan budi pekerti di atas pendidikan logika, dengan mengatakan bahwa “Education is thus the correct channeling of pains and pleasures” (Laws, 2, 653) yang bertujuan untuk mempertahankan sifat-sifat baik yang ada dalam diri anak dan kemudian mengembangkannya. (Republic,3, 398, 401)

Pendidikan Prenatal dan Usia Balita
Plato merekomendasikan pendidikan jiwa dan raga manusia dimulai sejak anak di dalam rahim, salah satunya dengan menyarankan kegiatan jalan kaki bagi para wanita hamil. Selain itu disarankan bagi anak usia balita agar melakukan banyak kegiatan fisik yang berfungsi sebagai penyeimbang bagi perkembangan jiwanya. (Laws, 7, 758, 759)

Storytelling
Dalam pandangan Plato kegiatan storytelling menempati peranan utama dalam pembentukan karakter anak dan kegiatan ini sebaiknya sudah dimulai sejak dini bahkan sebelum anak diperkenalkan dengan pendidikan fisik. Cerita yang disuguhkan kepada anak hendaknya yang bersifat legenda kepahlawanan. Hindarkan memperkenalkan anak dengan cerita yang menakutkan, seperti kisah monster, kengerian neraka atau kutukan dsb untuk menghindari anak menjadi bersifat penakut. Karena anak seharusnya dilatih untuk menjadi pemberani dan bebas dari takut akan kematian. (Republic, 2, 377, 383)

Aktivitas Bermain
Plato percaya bahwa karakter anak akan terbentuk saat ia bermain. Di sisi yang lain orang tua juga harus menekankan disiplin dalam kadar yang tepat dan bukan untuk mengintimidasi anak dan juga tidak membiarkan anak tenggelam dalam kesenangan bermain. (Laws, 7, 792). Anak yang terlalu dimanja dengan kemewahan hidup akan membuatnya tumbuh menjadi bertemperamen buruk danirritable, kemudian dalam perkembangannya ia akan mengalami kesulitan ketika harus berkonfrontasi dengan kenyataan pahit dalam kehidupan. (Republic, 3, 395)
Para pendidik dianjurkan untuk menyediakan bermacam model permainan yang bisa menyalurkan bakat dan potensi anak yang berkaitan dengan aktivitas yang akan mereka tekuni di saat mereka dewasa. Plato menyarankan agar anak-anak dibiarkan bermain bersama, walaupun demikian sudah mulai dikenal pemisahan jenis kelamin sejak anak berusia 6 tahun, tapi baik laki-laki maupun perempuan mempunyai kegiatan yang sama seperti menunggang kuda, memanah, danca ataupun permainan gulat (untuk mengembangkan kekuatan dan ketahanan fisik).
Permainan anak sangat diperhatikan oleh Plato, karena menurutnya permainan yang anak-anak lakukan di masa kecil berperan penting untuk pembentukan hukum dalam negara. (Laws, 7, 795-797)

Sumber : http://www.faqs.org/childhood/Pa-Re/Plato-427-348-B-C-E.html

Pendapat Socrates Tentang Cerita Yang Baik Untuk Anak

Socrates berpendapat bahwa cerita (termasuk bacaan dan tontonan) yang dikonsumsi oleh anak harus diseleksi dengan ketat, karena anak akan cenderung menyerap setiap hal yang mereka terima, lebih jauh Socrates mengatakan bahwa apapun yang diambil anak pada masa itu akan cenderung melekat dalam dirinya sehingga akan sulit untuk diubah.
Anak belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk sehingga mengkonsumsi cerita yang menonjolkan keburukan apalagi tanpa pendampingan orang tua akan membuat anak membenarkan perbuatan buruk yang mereka lakukan. Maka cerita yang diserap anak akan membentuk jiwanya.

Lebih lanjut Socrates menekankan pentingnya memperkenalkan nilai-nilai kebajikan di dalam cerita yang disajikan. Pernah Socrates memberikan kritik pedas kepada dua penyair besar pada masanya, yaitu Hesiod dan Homer karena menggambarkan para dewa dan pahlawan dalam imaji yang menurutnya tidak sesuai. Bagi Socrates, dewa-dewa tidak selayaknya digambarkan berperilaku tidak adil karena anak akan menangkap bahwa hal itu merupakan hal yang bisa diterima. Selain itu anak sebaiknya tidak diceritakan bagaimana para dewa saling berperang satu sama lainnya melainkan hanya memperkenalkan bahwa para dewa hanya berbuat kebaikan dan keadilan. Anak juga akan belajar prinsip kesatuan dan harmoni mendengarkan cerita yang damai bukan tentang perpecahan, perkelahian atau kekerasan.

Cerita yang baik, lanjut Socrates adalah yang dapat memupuk keberanian, hidup bersahaja dan rasa keadilan dalam diri anak. Selain itu, cerita yang baik tidak terlalu menggambarkan kegembiraan atau kesedihan yang berlebihan, tidak juga menonjolkan kemewahan dan cinta harta dan kekayaan.

Socrates berpendapat bahwa membuat cerita anak yang disusun dengan baik akan berfungsi sebagai salah satu metode untuk mendidik jiwa sang anak (educating guardians’ soul). Apabila anak terbiasa dengan cerita yang bernuansa kebaikan maka mereka akan membiasakan diri dengan kebaikan dan sebaliknya akan menghindari hal yang tidak baik.

Sumber : http://www.scu.edu/ethics/publications/submitted/dillon/education_plato_republic.

Tips Membantu Si Kakak Menerima Kehadiran Adik Kecilnya

Selamat atas kehadiran sang buah hati Anda yang kedua! Semua anggota keluarga pasti merasa bahagia, tidak terkecuali si kakak. Namun jangan heran, setiap anak akan merespon kehadiran adik kecilnya berbeda-beda tergantung temperamennya masing-masing. Anak yang bersifat lebih fleksibel dan mandiri cenderung bisa beradaptasi lebih mudah, sedangkan anak yang sensitif dan menyukai rutinitas biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk menerima kehadiran adik kecilnya.

Si kakak biasanya akan menunjukkan gejala minta perhatian, terutama saat ibu sedang mengasuh sang adik, misal sedang menyusui atau mengganti popoknya, jangan terpancing emosi kalau si kakak tiba-tiba merajuk minta dibikinkan minuman, minta ini-itu. Atau bahkan dia akan terlihat agak bersifat kasar terhadap adiknya, misal memukul tangan adik atau memainkan mainannya di atas kepala adiknya. Hadapi kelakuan si kakak dengan lembut, tindakan memarahi akan makin menjauhkan dia dari adiknya. Ajak bicara baik-baik “kakak, yang lembut sama adik kecil ya, kalau dipukul kan sakit..” sambil menunjukkan bagaimana cara membelai adiknya dengan baik. Lama-lama si kaka akan mulai menunjukkan rasa sayangnya yang tulus dan bahkan menikmati kehadiran sang adik kecil dalam kehidupannya.

Ada beberapa tips yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu si kakak menhadapi masa transisi tersebut :

1. Berikan padanya tugas spesial
Libatkan si kakak dalam mengurus bayi, Anda akan terkejut akan kemampuan dia dalam melakukan hal-hal tersbeut dalam usianya yang belia. Saat memandikan misalnya, biarkan si kakak ikut mengusapkan sabun ke badan adik kecilnya sambil berbicara lembut kepadanya. Saat si kecil menangis libatkan si kakak untuk ikut menepuk-nepuk bayi dengan lembut. Jika si kakak meminta untuk menggendong bayi, biarkan si kecil direngkuh dalam pelukannya dengan sandaran bantal di bawahnya, jangan kaget kalau si kakak tiba-tiba seolah-olah ‘melempar’ adiknya dari pelukan, dia masih mengira adiknya seperti mainan.

2. Tanyakan Pendapatnya
Saat memilih baju ganti bayi ajak si kakak bersama dan tanyakan pendapatnya, “sebaiknya adik bayi pake baju yang mana ya sekarang?”. Atau saat akan membacakan buku cerita, ajak si kakak ikut menentukan pilihan “Sebaiknya buku yang mana yang akan kita ceritakan sekarang?”

3. Memandang Adik Kecil Bersama-sama
Ajak si kakak untuk memperhatikan adiknya bersama-sama. Peluk dia dekat bersama adiknya dan mulai menjelaskan satu per satu , “Lihat tuh tangannya adik bayi masih kecil sekali ya…Dan lihat kakinya juga begitu kecil, dan ooh bisa menendang-nendang! Kakak bisa menendang seperti itu ngga? “

4. Bacakan Cerita Tentang Adik dan Kakak
Membaca cerita bersama sang kakak tentang bagaimana adik dan kakak bisa bermain dan menikmati waktu bersama akan membawa kesan positif dalam pikirannya.

5. Memahami Perasaannya
Adalah hal yang wajar apabila si kakak mengalami perasaan yang campur aduk dalam menyambut kedatangan adiknya, bagaimanapun juga ia pernah berada dalam situasi dimana semua perhatian tercurah hanya untuknya, dan sekarang tiba-tiba ia harus berbagi dengan adiknya.
Berbaik hatilah menghadapi tingkah polahnya yang kadang bisa Nampak menjengkelkan, jangan dimarahi tapi ajak ia berbicara dengan empati, katakana padanya “Tampaknya kakak sedih atau marah ya, mau mama peluk? Atau mama bacakan buku sayang?” Atau saat Anda sedang repot mengurus si kecil dan pada saat yang bersamaan si kakak merajuk ingin ini-itu, katakana dengan lembut “sayang, mama sedang mengganti popok adik bayi, nanti setelah ini mama main sama kakak ya anak pinter…” Kadang si kakak hanya ingin menunjukkan perasaannya dan dimengerti oleh Anda.

6. Luangkan Waktu Khusus Bersama Si Kakak
Saat si kecil tidur, luangkan waktu bersama si kakak untuk bermain bersama, walaupun untuk beberapa menit saja. Inilah saat dimana ia merasa spesial dan mengingatkannya bahwa dirinya juga anak mama yang sama disayang.
Ingat bahwa semua anak punya ritmenya sendiri-sendiri, kita harus menghargai itu, sebagian anak cepat untuk beradaptasi dengan situasi baru ini dan sebagian lain membutuhkan waktu yang lebih lama, it’s okay, ini bukan masalah lebih baik atau tidak, it’s just simply different J
And most of all, enjoy your moment…

Sumber: http://www.babycenter.com/0_helping-your-2-year-old-adjust-to-a-new-sibling_3636624.bc

Hasil Penelitian Mengungkapkan Pengaruh Ibu Terhadap Anak Lelakinya

Banyak orang menyangka bahwa jika anak laki-laki bergaul terlalu banyak dengan kaum hawa maka mereka akan tumbuh menjadi ‘keperempuanan’, lemah, cengeng dsb, intinya kehilangan jati diri sebagai seorang laki-laki. Walaupun memang anak laki-laki membutuhkan figure seorang ayah dalam perkembangan hidupnya, ternyata pengaruh interaksi yang baik dan proporsional dengan sang ibu ternyata dapat membantunya menjadi seorang laki-laki yang paripurna.

Dr. William Pollack, seorang asisten professor dari Harvard Medical School mengatakan bahwa, “Berbeda dengan pendapat kebanyakan orang bahwa interaksi yang terlalu intens dengan ibu bisa membuat anak laki-laki menjadi lebih ‘lemah’, justru sebaliknya hal itu dapat membuat anak-anak itu tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara emosional dan psikologis. Kedekatan dengan sang ibu juga tidak membuat anak menjadi tergantung dengan ibunya, malah ia menjadi dasar kuat bagi rasa aman dalam diri sang anak yang kemudian memberinya keberanian untuk menjelajah kehidupan. Dan jauh dari membuat sang anak menjadi ‘keperempuanan’, hubungan yang baik dan penuh cinta dari ibu justru akan membantunya menumbuhkan sisi maskulin dalam dirinya dengan tepat.”
Jadi, apa saja hal-hal yang seorang anak laki-laki bisa dapatkan dari interaksi yang penuh kasih sayang dengan ibunya?

1. MENGATASI STRES
Dari hasil penelitian ditemukan bahwa interaksi yang baik dan penuh kasih sayang antara ibu dan anak mencetuskan dihasilkannya hormon oksitosin, semakin tinggi kadar hormon ini dalam tubuh akan membuat kadar hormon kortisol - atau disebut juga dengan ‘stress hormone’- menurun.

2. MENGALAMI EMOSI YANG LEBIH LENGKAP
Seringkali orang banyak berpendapat bahwa menangis atau bersikap takut bukanlah sifat seorang laki-laki yang baik. Ungkapan bahwa “laki-laki kok nangis…laki-laki kok takut…” sering menjadi bumerang bagi anak laki-laki sehingga mereka akan cenderung untuk menekan perasaannya dan di kemudian hari akan meledak dalam bentuk yang berbeda-beda seperti perilaku agresif, psikosomatik hingga penyimpangan seksual.
Interaksi yang baik antara seorang anak laki-laki dengan sang ibu membuat sang anak belajar sinyal-sinyal emosional dan komunikasi non verbal yang merupakan tanda-tanda untuk mengenali perubahan dalam lingkungan dan kemudian memberikan respon yang tepat untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut, hal ini akan membangun kecerdasan emosional dalam diri sang anak.

3. BELAJAR MEMPERCAYAI SESEORANG
Memasuki usia 15-24 bulan, seorang anak akan mulai ‘mengembangkan sayapnya’ menjelajah dunia baru di sekelilingnya. Ini saat dimana ia belajar arti aman. Ia mulai menapakkan kaki mencoba dan berkenalan dengan dunia baru dan lingkungan di sekitarnya. Pada tahap ini peranan ibu yang memberikan dukungan di dekatnya sangat penting, anak-anak itu perlu mengetahui bahwa ibunya ada di sekitarnya dan dapat diandalkan, hal itu membantu memberikan rasa percaya diri mereka dalam menjelajah dunia luar.

4. BELAJAR EMPATI
Sang ibu yang responsive akan mengajarkan anaknya bagaimana orang lain di sekitarnya akan merasa akibat dari perilaku sang anak atau lingkungan sekitarnya. Saat mendampingi sang buah hati, ajak dia memperhatikan sekitarnya, misalnya ketika siang hari di bawah terik matahari yang menyengat melihat pengemis di pinggir jalan, katakan padanya “Tuh lihat nak, siang-siang panas begini bapak itu malah ada di pinggir jalan sambil ngga pake alas kaki, kan panas ya…pasti dia kehausan juga…kita bantu dia kasih uang supaya bapak bisa beli sendal ya..(sambil menggenggamkan uang dan menuntun anak memberikannya kepada sang pengemis)” atau saat sang anak emosi menunjukkan tantrumnya sambil memukul sang adik yang masih bayi, ajak dia bicara baik-baik sambil berkata “lho, kalau dipukul begitu kan sakit ade-nya kasihan, lebih baik disayang..” (sambil menuntun tangannya membelai sang adik).

5. BELAJAR MENUNJUKKAN KASIH SAYANG
Anak laki-laki yang kerap mendapatkan belaian atau ciuman sayang dari ibunya akan belajar bagaimana menunjukkan rasa kasih sayang.

6. BELAJAR MANDIRI
Rata-rata memasuki usia 18 bulan anak akan mulai punya keinginannya sendiri, selera makan sendiri, kesukaan mainan tersendiri dsb. Sang ibu jangan terintimidasi dengan pilihan kesukaan anak laki-lakinya ini, karena tidak jarang hal ini dirasa mengganggu dan menjengkelkan. Tantangannya memang menjaga keseimbangan antara menjadi orang tua yang suportif serta membiarkan dia melakukan apapun sehingga ia belajar dari pengalamannya sendiri, walaupun kadang itu menyakitkan dan menjaganya sambil memberikan batasan-batasan tertentu.

7. BELAJAR MENGHORMATI ORANG LAIN
Penelitian menunjukkan bahwa anak laki-laki yang kurang baik hubungannya dengan orang tua akan cenderung menjadi nakal di sekolah sebagai pelampiasan kebutuhannya yang tidak terpenuhi. Anak laki-laki yang ibunya tegas tapi penuh kasih menjadikan anak belajar bagaimana menghormati orang lain.

8. BELAJAR MENGONTROL DIRI SENDIRI
Peranan ibu sangat penting dalam mengajari anak laki-lakinya mengendalikan impuls diri yang cenderung kuat. Ketika ibu sanggup membuat batasan dan menerapkan aturan yang cocok pada usia dini, maka di kemudian hari si anak akan tumbuh menjadi individu yang cenderung mudah mengendalikan dirinya sendiri.

Sumber: http://www.mommypage.com/2013/09/studies-show-the-huge-influence-mothers-have-on-their-sons/