Kata 'attachment' digunakan oleh para psikolog untuk menggambarkan hubungan antara anak dan pengasuhnya (orang tua,teman atau keluarga yang mengasuh sehari-hari).
Adalah seorang pelajar -dari guru yang mendalami teori 'attachment' bernama Mary Ainsworth yang melakukan pengamatan selama berminggu-minggu terhadap pola interaksi antara bayi berusia satu tahun dengan ibunya di dalam ruang pengamatan. Percobaan ini dinamakan dengan 'a Strange Situation' (SS).
Pertama-tama anak dan ibu dibiarkan bermain bersama dan beradaptasi dengan ruangan baru, kemudian seseorang akan memasuki ruangan dan berinteraksi dengan ibu dan anak dengan akrab. Setelah sekian lama, sang ibu akan keluar sejenak dari ruangan -meninggalkan bayi berdua dengan orang yang baru ia temui- untuk kemudian kembali bermain dengan sang bayi.
Dari pengamatan ini didapatkan secara umum 4 tipe kemelekatan anak.
1. Secure attachment
Anak yang melekat dengan ibunya dan merasa aman dengannya menunjukkan perilaku menangis saat sang ibu keluar dari ruangan dan protes dengan caranya masing-masing. Akan tetapi saat ibu kembali ke ruangan dan memeluknya ia akan kembali tenang tak berapa lama dan kembali bermain.
Pola kemelekatan seperti ini biasanya terbentuk dari orang tua yang responsif dan melibatkan diri dengan segenap rasa ketika mengasuh anak, sehingga sang anak merasa kebutuhannya sebagian besar terpenuhi, dengan kata lain komunikasi terjalin lancar dan sang anak merasa kebutuhannya terpahami dan dipenuhi. Hal ini mengakibatkan kepercayaan diri anak tumbuh untuk bisa menlakukan eksplorasi di dunia sekitarnya.
2. Avoidant attachment
Ini adalah bentuk kemelekatan dengan cara yang justru tidak menunjukkan kemelekatan. Dalam kasus ini seringkali anak tidak berusaha mencari ibunya atau protes saat ia meninggalkan ruangan, ia akan terus bermain sendiri.
Pola hubungan seperti ini biasanya timbul jika orang tua atau pengasuh anak tidak melibatkan diri dengan anak dalam keseharian. Bisa jadi pengasuh secara fisik berada dekat dengan anak namun sibuk dengan dunianya sendiri, misal menonton televisi atau tenggelam dalam dunia maya. Anak seringkali merasa tidak diberi perhatian, bahkan dalam kasus ekstrem merasa ditolak.
Jika sang anak seringkali merasa kebutuhannya tidak diidentifikasi dia akan membangun mekanisme pertahanan diri untuk memenuhi kebutuhannya sendiri seolah-olah berkata, "ibuku tidak responsif terhadap kebutuhanku bahkan saat aku menunjukkan emosi, lebih baik aku sama sekali tidak menampakkan perasaanku sama sekali."
3. Ambivalent attachment
Saat orang tua bersikap inkonsisten dalam memberikan perhatiannya kepada anak; kadang bisa larut bermain bersama anak dan responsif terhadap setiap detil kebutuhan sang buah hati, namun tidak jarang juga tersibukkan dengan dunia atau kegiatannya sendiri. Dua tipe hubungan yang ekstrem bisa membuat anak bingung dan akhirnya bersikap ambivalen.
Dalam percobaan itu, anak bisa jadi menunjukkan kegelisahannya saat sang ibu pergi, tapi juga terlihat menekan rasa itu dan terlihat acuh pada saat yang bersamaan. Tidak jarang anak akan cenderung agresif dan sangat 'demanding' untuk menarik perhatian sang orang tua.
Dalam kemelekatan seperti ini anak seolah berkata, "walaupun ibuku ada secara fisik, namun ia tidak akan bisa menenangkanku." Maka tindakannya adalah dengan 'over-activating' sikap-sikap yang menunjukkan kemelekatan.
4. Disorganized attachment
Pola kemelekatan seperti ini sebetulnya bukan langsung dari pengamatan dalam percobaan yang dilakukan oleh Mary di dalam lab, akan tetapi sering muncul dari anak-anak korban kekerasan secara fisik atau psikis di dalam rumah.
Respon yang tidak teratur dan tidak dapat ditebak saat anak berada dalam situasi yang kurang nyaman, misal berada dalam ruangan baru atau bertemu orang yang baru dikenal - anak bisa suatu saat menempel (clingy) pada ibunya dan di saat lain berubah menjauhinya. Tampak sekali bahwa sang anak sebenarnya merasa kurang nyaman dalam interaksi bersama orang tua yang dalam keseharian tidak jarang melakukan kekerasan secara fisik atau psikis (misal teriak atau membentak anak).
Keempat macam bentuk kemelekatan di atas bukanlah semacam diagnosis akhir, akan tetapi suatu pengamatan yang bersifat temporer, dimana hasil yang nampak sangat dipengaruhi oleh pola interaksi antara anak dan orang tua selanjutnya.
Setidaknya hasil percobaan ini memberi gambaran betapa mengurus anak merupakan kegiatan yang sepatutnya dilakukan sepenuh hati dan kesadaran, bukan suatu pekerjaan sampingan apalagi dianggap menghabiskan waktu pribadi. Karena sejatinya tugas mengurus anak - terutama fase pengukiran karakter dalam 7 tahun pertama kehidupan anak- adalah misi besar yang diemban setiap orang tua. Merawat anak sesuai fitrah dirinya.