Salah satu pilar dalam hubungan orang tua dan anak yang
sehat adalah kemampuan untuk membangun dan mengimplementasikan aturan main yang
tepat dalam interaksi interpersonal. Disinilah terletak peranan penting para
orang tua atau pengasuh dalam mengajarkan sang anak mengenai perilaku yang
sesuai dengan budayanya masing-masing.
Penelitian yang
dilakukan oleh Sroufe (2005) menyebutkan bahwa usia dua tahun pertama kehidupan
anak adalah fase kritis pembentukan dimensi emosi dan perilakunya. Oleh karena
itu dibutuhkan pengasuhan yang empati, penuh kasih sayang dan responsif
terhadap keadaan psikologis dan kebutuhan anak. Tantangannya adalah sang anak
belum bisa mengkomunikasikan kebutuhannya secara baik secara verbal, oleh
karenanya kepekaan dan kemampuan membaca bahasa tubuh atau sinyal lain dan
sensitive terhadap apa yang menjadi kebutuhan si anak. Semakin orang tua
membangun hubungan dengan anak dengan mengantisipasi kebutuhannya, maka
kepercayaan anak kepada dirinya dan orang tuanya makin tumbuh, ini adalah proses
dasar dalam pembentukan emosi dan merupakan salah satu fase kritis dalam
perkembangan anak.
Perkembangan emosi yang
stabil dan baik antara orang tua dan anak membantu sang anak untuk membangun
landasan kokoh di dalam dirinya yang nantinya akan menjadi pilar kemampuan
mereka dalam mengidentifikasi dan mengatasi perasaan yang tidak mengenakkan
seperti frustasi dan kesal, terutama saat keinginan mereka tidak terpenuhi dan
mereka harus kompromi dengan kenyataan kehidupan.
Membangun suasana emosi
yang positif dalam diri anak adalah landasan penting untuk mereka mengatasi
konflik dalam hidup, bagi orang tua kemampuan untuk mendengarkan secara empati
dan aktif juga menunjukkan ekspresi yang tenang dan stabil adalah salah satu
cara mengajarkan kestabilan emosi pada anak. Dikatakan bahwa anak-anak yang
hubungan emosinya baik dengan orang tua biasanya tumbuh menjadi anak yang baik
dan menyenangkan bagi teman-teman sebayanya, juga ke depan bagi pasangan
hidupnya karena mereka bisa menjaga hubungan yang positif dengan orang-orang di
sekitarnya. Kuncinya disini adalah pelimpahan cinta dan kasih sayang dari orang
tua sejak mereka kecil.
Penting juga untuk
menjaga keseimbangan antara menjadi orang tua yang responsif dan juga
menegakkan batas-batas disiplin dan aturan. Orang tua yang terlalu permisif dan
cenderung mengikuti apa yang anak inginkan juga tidak sengaja mengajarkan
perilaku yang kuran baik. Biasanya anak-anak yang tumbuh dengan metoda
pengasuhan yang dimanja cenderung mengalami kesulitan mengatur emosi mereka di
masa depan, juga berisiko tinggi melakukan perilaku yang menyimpang.
Di lain sisi orang tua
yang terlalu kaku dan keras mendidik anaknya, biasanya juga mereka cenderung
menaruh harapan yang tidak realistis atas anak-anaknya dan jarang mengekspresikan
pujian atau dukungannya akan mengakibatkan anak kesulitan untuk keluar dari ‘cangkang’
yang orang tuanya bentuk, daya kreativitasnya tidak berkembang dan kemampuannya
untuk mengatasi masalah cenderung lumpuh. Tidak jarang si anak melampiaskan
perasaannya dengan menjadi berandalan dan perilaku yang bersifat menarik
perhatian orang tuanya.
Kualitas hubungan anak
dan orang tua memang terbukti berpengaruh besar dalam perkembangan kemampuan
regulasi emosi si anak. Suatu saat nanti anak pasti akan mengarungi kehidupan
yang penuh gejolak emosional dan ketidakpastian. Menanamkan basis emosi yang baik
sejak dini akan membantu mereka untuk bisa beradaptasi dengan situasi di masa
depan.
Wolfe, David A. ; McIsaac, Caroline
Child Abuse & Neglect, 2011, Vol.35(10), pp.802-813
No comments:
Post a Comment