Wednesday, May 21, 2014

Hasil Penelitian Mengungkapkan Pengaruh Ibu Terhadap Anak Lelakinya

Banyak orang menyangka bahwa jika anak laki-laki bergaul terlalu banyak dengan kaum hawa maka mereka akan tumbuh menjadi ‘keperempuanan’, lemah, cengeng dsb, intinya kehilangan jati diri sebagai seorang laki-laki. Walaupun memang anak laki-laki membutuhkan figure seorang ayah dalam perkembangan hidupnya, ternyata pengaruh interaksi yang baik dan proporsional dengan sang ibu ternyata dapat membantunya menjadi seorang laki-laki yang paripurna.

Dr. William Pollack, seorang asisten professor dari Harvard Medical School mengatakan bahwa, “Berbeda dengan pendapat kebanyakan orang bahwa interaksi yang terlalu intens dengan ibu bisa membuat anak laki-laki menjadi lebih ‘lemah’, justru sebaliknya hal itu dapat membuat anak-anak itu tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara emosional dan psikologis. Kedekatan dengan sang ibu juga tidak membuat anak menjadi tergantung dengan ibunya, malah ia menjadi dasar kuat bagi rasa aman dalam diri sang anak yang kemudian memberinya keberanian untuk menjelajah kehidupan. Dan jauh dari membuat sang anak menjadi ‘keperempuanan’, hubungan yang baik dan penuh cinta dari ibu justru akan membantunya menumbuhkan sisi maskulin dalam dirinya dengan tepat.”
Jadi, apa saja hal-hal yang seorang anak laki-laki bisa dapatkan dari interaksi yang penuh kasih sayang dengan ibunya?

1. MENGATASI STRES
Dari hasil penelitian ditemukan bahwa interaksi yang baik dan penuh kasih sayang antara ibu dan anak mencetuskan dihasilkannya hormon oksitosin, semakin tinggi kadar hormon ini dalam tubuh akan membuat kadar hormon kortisol - atau disebut juga dengan ‘stress hormone’- menurun.

2. MENGALAMI EMOSI YANG LEBIH LENGKAP
Seringkali orang banyak berpendapat bahwa menangis atau bersikap takut bukanlah sifat seorang laki-laki yang baik. Ungkapan bahwa “laki-laki kok nangis…laki-laki kok takut…” sering menjadi bumerang bagi anak laki-laki sehingga mereka akan cenderung untuk menekan perasaannya dan di kemudian hari akan meledak dalam bentuk yang berbeda-beda seperti perilaku agresif, psikosomatik hingga penyimpangan seksual.
Interaksi yang baik antara seorang anak laki-laki dengan sang ibu membuat sang anak belajar sinyal-sinyal emosional dan komunikasi non verbal yang merupakan tanda-tanda untuk mengenali perubahan dalam lingkungan dan kemudian memberikan respon yang tepat untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut, hal ini akan membangun kecerdasan emosional dalam diri sang anak.

3. BELAJAR MEMPERCAYAI SESEORANG
Memasuki usia 15-24 bulan, seorang anak akan mulai ‘mengembangkan sayapnya’ menjelajah dunia baru di sekelilingnya. Ini saat dimana ia belajar arti aman. Ia mulai menapakkan kaki mencoba dan berkenalan dengan dunia baru dan lingkungan di sekitarnya. Pada tahap ini peranan ibu yang memberikan dukungan di dekatnya sangat penting, anak-anak itu perlu mengetahui bahwa ibunya ada di sekitarnya dan dapat diandalkan, hal itu membantu memberikan rasa percaya diri mereka dalam menjelajah dunia luar.

4. BELAJAR EMPATI
Sang ibu yang responsive akan mengajarkan anaknya bagaimana orang lain di sekitarnya akan merasa akibat dari perilaku sang anak atau lingkungan sekitarnya. Saat mendampingi sang buah hati, ajak dia memperhatikan sekitarnya, misalnya ketika siang hari di bawah terik matahari yang menyengat melihat pengemis di pinggir jalan, katakan padanya “Tuh lihat nak, siang-siang panas begini bapak itu malah ada di pinggir jalan sambil ngga pake alas kaki, kan panas ya…pasti dia kehausan juga…kita bantu dia kasih uang supaya bapak bisa beli sendal ya..(sambil menggenggamkan uang dan menuntun anak memberikannya kepada sang pengemis)” atau saat sang anak emosi menunjukkan tantrumnya sambil memukul sang adik yang masih bayi, ajak dia bicara baik-baik sambil berkata “lho, kalau dipukul begitu kan sakit ade-nya kasihan, lebih baik disayang..” (sambil menuntun tangannya membelai sang adik).

5. BELAJAR MENUNJUKKAN KASIH SAYANG
Anak laki-laki yang kerap mendapatkan belaian atau ciuman sayang dari ibunya akan belajar bagaimana menunjukkan rasa kasih sayang.

6. BELAJAR MANDIRI
Rata-rata memasuki usia 18 bulan anak akan mulai punya keinginannya sendiri, selera makan sendiri, kesukaan mainan tersendiri dsb. Sang ibu jangan terintimidasi dengan pilihan kesukaan anak laki-lakinya ini, karena tidak jarang hal ini dirasa mengganggu dan menjengkelkan. Tantangannya memang menjaga keseimbangan antara menjadi orang tua yang suportif serta membiarkan dia melakukan apapun sehingga ia belajar dari pengalamannya sendiri, walaupun kadang itu menyakitkan dan menjaganya sambil memberikan batasan-batasan tertentu.

7. BELAJAR MENGHORMATI ORANG LAIN
Penelitian menunjukkan bahwa anak laki-laki yang kurang baik hubungannya dengan orang tua akan cenderung menjadi nakal di sekolah sebagai pelampiasan kebutuhannya yang tidak terpenuhi. Anak laki-laki yang ibunya tegas tapi penuh kasih menjadikan anak belajar bagaimana menghormati orang lain.

8. BELAJAR MENGONTROL DIRI SENDIRI
Peranan ibu sangat penting dalam mengajari anak laki-lakinya mengendalikan impuls diri yang cenderung kuat. Ketika ibu sanggup membuat batasan dan menerapkan aturan yang cocok pada usia dini, maka di kemudian hari si anak akan tumbuh menjadi individu yang cenderung mudah mengendalikan dirinya sendiri.

Sumber: http://www.mommypage.com/2013/09/studies-show-the-huge-influence-mothers-have-on-their-sons/

No comments:

Post a Comment