Saturday, October 29, 2016

Mendidikan Anak Bukan Sebuah Lomba!

"Anak saya sudah mulai jalan sejak usia 8 bulan"
"Anak saya dong, lulus SD di usia 10 tahun"
"Eh itu belum seberapa, anaknya si anu sudah jadi profesor di usia 18 tahun!"
Demikian kutipan percakapan di sebuah forum chat yang bikin saya geleng-geleng kepala. Tampaknya membesarkan anak sudah menjelma menjadi kompetisi atau lomba tentang siapa paling cepat tumbuh atau paling segera lulus. Padahal setiap anak adalah unik dan memerlukan waktu tumbuh kembangnya masing-masing yang sama sekali tidak bisa dijadikan patokan bahwa yang satu lebih baik daripada yang lain.
Buah mangga misalnya baru baik untuk dipanen sekitar usia 58-119 hari sedangkan buah durian umumnya baru matang dan siap dipanen pada usia 8 - 10 tahun. Lalu kita kan tidak serta merta mengatakan buah mangga lelet? It's simply a different fruit!
Setiap anak membawa benih suci dari Allah Ta'ala yang dapat diidentifikasi melalui potensi akademik, musik, empati, seni dan hal lain yang sangat luas. Tugas orang tua bagaikan seorang bidan yang mengidentifikasi bakat dan membantu seseorang melahirkan 'anak-anak'nya yang berupa kapasitas diri yang juga berkaitan erat dengan kemisian hidup seorang insan. Jadi please, berhenti membanding-bandingkan anak kita dan biarkan mereka bertumbuh kembang mengikuti fitrahnya sendiri.

Sunday, August 21, 2016

Jangan Paksa Anak Menghafal!

“Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited to all we now know and understand, while imagination embraces the entire world, and all there ever will be to know and understand.”

― Albert Einstein

Periode awal anak (0-7 tahun) adalah saat ketika imajinasi anak tumbuh dengan pesat, pendidikan yang terlampau keras baik dari orang tua atau lingkungan sekolah hanya akan membuat pikiran anak menjadi kaku dan kemudian rapuh dalam menyongsong masa depan.

Pada periode pertama tersebut biarkan anak mengeksplorasi imajinasinya bagaikan seorang raja yang ingin menjelajah, peran orang tua, guru atau pengasuh adalah menunjukkan batas-batas medan eksplorasi, jangan sampai merugikan orang lain atau merusak dan disampaikan dengan cara dan waktu yang baik.

Jika pada periode awal itu anak dipaksakan untuk menghafal dan membeo maka itu akan membuat kaku pegas imajinasi dalam dirinya. Sama halnya jika pendidikan pada anak terlalu hitam-putih, menekankan ini salah - itu kafir tanpa memberi penjelasan yang memadai maka anak akan tumbuh dalam tempurung kecil yang dibuat oleh orang tua atau gurunya. Padahal mereka akan menghadapi dunia yang penuh warna, tidak hanya hitam putih. Manakala mereka dihadapi oleh realitas yang berbeda yang apa yang diajarkan di masa kecil, maka dirinya akan cenderung rapuh dalam menyelami kehidupan dan goyah emosinya karena kesulitan memahami fenomena yang ada.

(Adaptasi dari diskusi suluk yang dipandu oleh Kang Zam, mursyid penerus Thariqah Kadisiyah, 6 Agustus 2016)



Thursday, July 21, 2016

Gaya Pengajaran Anak di Era Internet

Banyak orang tua yang menerapkan metoda mengajarkan agama kepada anak sama seperti saat mereka dulu diajarkan oleh orang tua atau gurunya, akan tetapi anak-anak sekarang adalah mereka yang dibesarkan dan akan menghadapi dunia yang jauh berbeda dengan orang tuanya dahulu. Anak-anak sekarang makin kritis dan itu sebenarnya adalah hal yang baik di tengah-tengah era banjirnya informasi yang mereka dapatkan dengan mudah hanya dengan menggerakkan jari di gadgetnya masing-masing.
Anak-anak sekarang tidak bisa lagi dicekoki dengan doktrin dan dogma begitu saja apalagi dibubuhi "pokoknya harus nurut!" atau "ngga usah banyak tanya!". Apa yang terjadi? Mereka akan mencari jawaban di luar rumah dan lebih parah lagi mereka akan menjarak bahkan lari dari rumah dan orang tua yang diharapkan menjadi pelabuhan yang aman dari gejolak dinamika dunia yang akan selalu menerpanya.
Setiap orang tua mesti menyadari hal ini, sehingga saat anak-anak datang kepada kita dengan sejuta pertanyaan bahkan dengan pengakuan atas kesalahan yang mereka telah perbuat yang diharapkan muncul dari orang tua adalah kemampuan untuk menenangkan mereka, memeluk mereka dengan kasih dan menguatkan mereka dengan kata-kata cinta dan hikmah, karena hati akan menerima apa-apa yang disampaikan juga dari hati.
(Adaptasi dari "What's happening to today's children", Bawa Muhaiyyaddeen)

Monday, July 18, 2016

Waspadai Periode Genting Pada Anak

Ada rentang usia tertentu dalam pertumbuhan anak dimana anak akan rentan berbuat kesalahan dan cenderung melampiaskan naluri petualangnya hingga tersesat jauh dari fitrah diri. Untuk anak perempuan rentang usia ini adalah 12 hingga 20 tahun. Sedangkan untuk anak laki-laki antara 14 hingga 25 tahun.
Itulah masa ketika mereka akan mencoba melakukan hal-hal yang bodoh dalam hidup, periode ketika hubungan dengan orang tuanya bisa mengalami guncangan dan saat dimana nilai-nilai luhur yang diajarkan mereka tinggalkan.
Bagi anak perempuan usia ini adalah saat gejolak seksual mereka mulai membuncah, mereka bisa mulai menyukai seseorang dan berpacaran hingga berperilaku seperti seorang pelacur. Mereka akan membuka dirinya melakukan petualangan segila apapun untuk mengumbar syahwat walaupun pendidikan dan kehidupan mereka menjadi taruhannya. Penting bagi orang tua untuk menjadi teman yang baik bagi mereka di saat seperti ini, dampingi mereka dengan seksama dan senantiasa membuka pintu komunikasi dengan pertama kali menjadi pendengar yang baik dan empati. Jika mereka merasa didengarkan dan tidak dihakimi maka gejolak berpetualangnya yang besar itu dapat diredakan.
Begitu pun bagi anak laki-laki, bimbing mereka untuk fokus dalam menuntut ilmu. Jangan biarkan mereka bermain terlalu banyak karena itu bisa merusak jiwanya. Pada rentang usia kritis itu orang tua harus tegas memberi batasan. Seperti menaklukkan kuda liar, orang tua harus mempunyai keterampilan yang baik untuk menjinakkannya.
Dalam periode genting inilah peran orang tua untuk melindungi dan mendidik anaknya sangat diperlukan. Karena jika berhasil melampaui periode ini dengan baik niscaya mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang indah. Tugas orang tua untuk memberi mereka bimbingan, menaungi mereka dengan cinta, memaafkan mereka jika berbuat kesalahan, menjadi sahabat baiknya yang selalu bisa diandalkan. Orang tua harus berjuang meraih anak-anak dan mengajari mereka kebaikan serta hikmah dan hidup bersama dalam nuansa kasih dan harmoni.
Wahai orang tua dan anak-anak, kalian semua harus mewaspadai rentang usia ini. Sebuah masa ketika masa depan anak dipertaruhkan, masa ketika anak bisa tersesat dalam pusaran dunia, masa ketika teman bahkan guru bisa memberikan pengaruh yang buruk kepadanya. Mohonlah perlindungan dari Dia sebaik-baik pemberi perlindungan.
(Adaptasi dari "A Contemporary Sufi Speaks To Teenagers & Parents". Bawa Muhaiyyaddeen Fellowship)