Monday, February 24, 2014

Inilah Beberapa Penyebab Balita Anda Terbangun Di Malam Hari



Salah satu hal yang sering dikeluhkan oleh para orang tua saat berkonsultasi kepada dokter spesialis anak adalah perihal pola tidur sang buah hati. Di Amerika dilaporkan bahwa sebanyak 15-54% balita mengalami gangguan tidur di malam hari dalam kurun 4 tahun pertama usianya.

Penelitian yang dilakukan terhadap 1.200 bayi usia 6 bulan hingga 36 bulan di Amerika menunjukkan beberapa hal yang berpengaruh dalam pola tidur bayi di malam hari.

1. Penyapihan ASI

Biasanya bayi yang baru disapih mengalami kesulitan untuk menenangkan dirinya sendiri saat terbangun di malam hari karena sudah terbiasa tertidur dalam pelukan ibu sambil menyusui.

2. Respon Orang Tua

Beberapa peneliti mengaitkan pola terbangunnya bayi di malam hari dengan respon yang diberikan orang tua saat mereka terbangun dari lelapnya. Dikatakan bahwa orang tua yang berespon terlalu cepat terhadap tangisan anak mengakibatkan anak tidak berkesempatan untuk belajar menenangkan dirinya sendiri sehingga akan menjadi tergantung kepada orang tuanya.

3. Temperamen Anak

Anak yang hipersensitif dan temperamental biasanya tidur lebih singkat dan tidak teratur dan biasanya lebih membutuhkan bantuan orang tua untuk menenangkannya.

4. Ketergantungan Kepada Orang Tua

Anak yang terbiasa tidur didampingi orang tua biasanya lebih cenderung terbangun di malam hari pada usia 17 – 29 bulan, hal ini karena mereka sudah terbiasa dengan pendampingan orang tua, biasanya ibu dan mengharapkan mereka untuk ada di sekitarnya.

Memasuki usia tiga tahun anak mulai dapat mengatasi kejadian terbangun di malam hari, mereka bisa melakukan self-soothing. Walaupun demikian setiap anak berbeda-beda tergantung kepada bawaan temperamennya, masalah medis yang mungkin ada misalkan infeksi telinga, gangguan pencernaan atau saluran nafas yang membuat mereka tidak nyaman tidur; keberlekatan yang berlebihan terhadap orang tua, suasana keluarga yang tidak stabil, maternal depression atau perilaku orang tua saat mereka tidur.


Weinraub, Marsha ; Bender, Randall H. ; Friedman, Sarah L. ; Susman, Elizabeth J. ; Knoke, Bonnie ; Bradley, Robert ; Houts, Renate ; Williams, Jason Eccles, Jacquelynne (editor)
Developmental Psychology, 2012, Vol.48(6), pp.1511-1528







Thursday, February 20, 2014

Usia Dua Tahun Pertama Sebagai Pondasi Bagi Pembentukan Emosi dan Perilaku Anak



Salah satu pilar dalam hubungan orang tua dan anak yang sehat adalah kemampuan untuk membangun dan mengimplementasikan aturan main yang tepat dalam interaksi interpersonal. Disinilah terletak peranan penting para orang tua atau pengasuh dalam mengajarkan sang anak mengenai perilaku yang sesuai dengan budayanya masing-masing.

Penelitian yang dilakukan oleh Sroufe (2005) menyebutkan bahwa usia dua tahun pertama kehidupan anak adalah fase kritis pembentukan dimensi emosi dan perilakunya. Oleh karena itu dibutuhkan pengasuhan yang empati, penuh kasih sayang dan responsif terhadap keadaan psikologis dan kebutuhan anak. Tantangannya adalah sang anak belum bisa mengkomunikasikan kebutuhannya secara baik secara verbal, oleh karenanya kepekaan dan kemampuan membaca bahasa tubuh atau sinyal lain dan sensitive terhadap apa yang menjadi kebutuhan si anak. Semakin orang tua membangun hubungan dengan anak dengan mengantisipasi kebutuhannya, maka kepercayaan anak kepada dirinya dan orang tuanya makin tumbuh, ini adalah proses dasar dalam pembentukan emosi dan merupakan salah satu fase kritis dalam perkembangan anak.

Perkembangan emosi yang stabil dan baik antara orang tua dan anak membantu sang anak untuk membangun landasan kokoh di dalam dirinya yang nantinya akan menjadi pilar kemampuan mereka dalam mengidentifikasi dan mengatasi perasaan yang tidak mengenakkan seperti frustasi dan kesal, terutama saat keinginan mereka tidak terpenuhi dan mereka harus kompromi dengan kenyataan kehidupan.

Membangun suasana emosi yang positif dalam diri anak adalah landasan penting untuk mereka mengatasi konflik dalam hidup, bagi orang tua kemampuan untuk mendengarkan secara empati dan aktif juga menunjukkan ekspresi yang tenang dan stabil adalah salah satu cara mengajarkan kestabilan emosi pada anak. Dikatakan bahwa anak-anak yang hubungan emosinya baik dengan orang tua biasanya tumbuh menjadi anak yang baik dan menyenangkan bagi teman-teman sebayanya, juga ke depan bagi pasangan hidupnya karena mereka bisa menjaga hubungan yang positif dengan orang-orang di sekitarnya. Kuncinya disini adalah pelimpahan cinta dan kasih sayang dari orang tua sejak mereka kecil.

Penting juga untuk menjaga keseimbangan antara menjadi orang tua yang responsif dan juga menegakkan batas-batas disiplin dan aturan. Orang tua yang terlalu permisif dan cenderung mengikuti apa yang anak inginkan juga tidak sengaja mengajarkan perilaku yang kuran baik. Biasanya anak-anak yang tumbuh dengan metoda pengasuhan yang dimanja cenderung mengalami kesulitan mengatur emosi mereka di masa depan, juga berisiko tinggi melakukan perilaku yang menyimpang.

Di lain sisi orang tua yang terlalu kaku dan keras mendidik anaknya, biasanya juga mereka cenderung menaruh harapan yang tidak realistis atas anak-anaknya dan jarang mengekspresikan pujian atau dukungannya akan mengakibatkan anak kesulitan untuk keluar dari ‘cangkang’ yang orang tuanya bentuk, daya kreativitasnya tidak berkembang dan kemampuannya untuk mengatasi masalah cenderung lumpuh. Tidak jarang si anak melampiaskan perasaannya dengan menjadi berandalan dan perilaku yang bersifat menarik perhatian orang tuanya.

Kualitas hubungan anak dan orang tua memang terbukti berpengaruh besar dalam perkembangan kemampuan regulasi emosi si anak. Suatu saat nanti anak pasti akan mengarungi kehidupan yang penuh gejolak emosional dan ketidakpastian. Menanamkan basis emosi yang baik sejak dini akan membantu mereka untuk bisa beradaptasi dengan situasi di masa depan.

Wolfe, David A. ; McIsaac, Caroline
Child Abuse & Neglect, 2011, Vol.35(10), pp.802-813







Tuesday, February 11, 2014

Pengalaman Para Ibu Mengatasi Bayi Menangis Di Tengah Malam

Bayi Anda tiba-tiba terbangun di tengah malam dengan histeris?
Anda mencoba menenangkannya dengan berbagai cara tapi ia tidak kunjung berhanti menangis?

Deborah Lin-Dynken, seorang pakar pediatric sleep disorders mengatakan bahwa hal itu lumrah terjadi pada bayi bahkan mereka yang biasanya tidur dengan nyenyak (best sleepers). Hal itu bisa jadi diakibatkan karena banyak hal, diantaranya kurang waktu tidur, penyakit tertentu, separation-anxiety atau memang suatu fase dalam perkembangan anak.

Berikut adalah pengalaman para ibu dalam menanggulangi hal semacam ini, semoga bermanfaat:

Ø  Bayi saya berusia 7 bulan saya coba menyalakan lampu tidur dan akhirnya dua hari kemudian dia bisa tertidur pulas sepanjang malam, mungkin ia terbangun karena takut gelap?

Ø  Anak saya berusia 13 bulan, ia biasanya tidur jam 8 malam dan akan terbangun tengah malam hampir setiap hari, saya kemudian coba untuk mengganti popoknya dan memakai popok khusus untuk malam untuk penyerapan yang lebih baik, akhirnya ia tertidur pulas seterusnya, mungkin ia merasa tidak nyaman dengan popok yang lembab.

Ø  Anak perempuan saya yang berusia 14 bulan suatu hari menangis meraung-raung dan kami tidak mengerti apa yang menyebabkan demikian, lalu saya gendong dia dan mengajak berjalan-jalan sekitar rumah untuk menenangkannya, lama-lama ia tertidur lagi.

Ø  Anak perempuan saya yang berusia 27 bulan bisa terbangun 1-3 kali dalam semalam sambil menangis histeris, ia akan bangkit dari tempat tidurnya untuk kemudian merebahkan diri di lantai sambil terus menangis dan ia akan terus menangis walau saya sudah coba menggendong dan menenangkannya, biasanya setelah 20 menit kemudian ia baru berhenti menangis dan kembali tidur.

Ø  Anak perempuan saya kini berusia 9 bulan, memang sejak bayi ia punya masalah dengan saluran pencernaan hingga saya herus mengganti susu formulanya dengan susu khusus hingga akhirnya ia bisa tidur dengan tenang.

Ø  Anak saya mulai mengalami kolik dan terbangun tengah malam setelah mulai mendapatkan vaksinasi, komunikasikan hal ini dengan dokter anak anda karena ada efek samping tertentu yang bisa muncul pada setiap bayi.

Ø  Anak saya laki-laki berusia 17 bulan, ia akan bangun 2-3 kali di tengah malam dengan histeris selama 10 hari, lalu kami membawanya ke dokter dan ternyata ia mendapatkan infeksi di kedua belah telinganya.

Ø  Anak perempuan saya berusia 5 bulan dan baru 3 minggu yang lalu mulai tumbuh gigi. Ia mulai terbangun dan menangis di tengah malam, biasanya saya menenangkan ia dengan memeluknya dan memberikan belaian di di pipi atau dahinya dengan selimut yang lembut atau bahan lain yang halus dan itu berhasil membuatnya kembali tertidur.



Sumber Bacaan:
http://www.babycenter.com/404_why-is-my-baby-suddenly-waking-up-hysterical-at-night_1292617.bc