Ada eksperimen menarik yang dilakukan di Universitas Standford Amerika kepada anak-anak usia 5 tahun. Umumnya anak-anak di Amerika pada doyan makan bacon untuk sarapan pagi. Dalam eksperimen ini anak-anak itu diberi dua pilihan, langsung makan bacon kesukaan mereka atau kalau mereka sabar menunggu 15 menit, mereka dapat ekstra bacon.
Sekian tahun kemudian, para peneliti melihat anak-anak yang sabar menunggu hidupnya lebih sukses.
Jadi ajari anak kita untuk bersabar, jangan membiasakan mereka mendapatkan apa-apa yang mereka inginkan saat itu juga, bahkan sesederhana makanan kesukaannya.
Sayang Anak
Berbagi tulisan tentang tumbuh kembang anak
Saturday, July 18, 2020
Sunday, May 31, 2020
"I want to join scouting, mama" katanya dengan semangat.
Wow, i didn't see it coming. Anakku yang tadinya sangat pemalu. Yang selama dua tahun di pre-school lebih memilih main menyendiri. Pun hingga tahun pertama di TK tak banyak bicara hingga saya sebagai ibunya diajak meeting dengan jajaran direksi, psikolog dan konsulen di sekolah. Hingga akhirnya Allah mempertemukan dia dengan seorang guru senior bernama belakang "Levy", dalam kesaksiannya selama 30 tahun pengalaman mengajar, beliau mengatakan bahwa macam anak saya ini adalah anak kedua yang ia pernah jumpai. Seseorang dengan profil "highly sensitive" dia bilang adalah sangat tinggi empatinya, intuisinya tajam, cenderung sangat cerdas tapi biasanya di awal sering kesulitan memahami gejolak emosi yang ada di dalam diri. Maka anak seperti ini akan cenderung menyendiri atau ditangkap orang lain sebagai sangat pemalu.
Saya pun sudah mulai paham. Tidak mengikutkan anak ini pada berbagai macam kegiatan ekskul seperti kakaknya. Tapi perlahan-lahan, karena termotivasi oleh kakaknya. Dia pun mulai keluar dari cangkangnya. Walau dengan tartatih-tatih. Saya sebagai ibu dilatih tiga tahun lebih untuk memahami ritme emosinya. Sambil kerap dikejutkan dengan lonjakan pemikiran dan daya empatinya yang luar biasa untuk anak seusianya.
Akhir pekan ini, akhirnya kami pun mengantarnya untuk pertama kali ke kegiatan pramuka (scouting) sesuai keinginannya. Sejak pagi dia sudah sangat semangat untuk pergi. Hingga sampai tiba di depan gerbang sebuah bangunan di pedesaan yang asri, anaknya mulai ciut ketika melihat anak-anak yang lain yang belum ia kenal dan tempat yang sama sekali baru. Dia berbisik, "Mama, aku mual..." Saya tersenyum, paham kalau dia sedang stress. Saya peluk dia erat-erat dan berbisik kembali, "it's going to be okay..."
Saya bisa membayangkan ketegangan yang berkecamuk di dalam dirinya sampai menimbulkan rasa mual dan jantungnya yang mungkin berdetak lebih kencang. Tapi ia terus berjalan hingga mendekati tiga orang pemandu pramuka yang menyambutnya dengan sangat ramah. Kami berbicara sebentar memperkenalkan diri. Saya sebenarnya berharap di kali pertama mereka mengizinkan orang tua untuk bisa tinggal dan mengamati. Tapi ternyata tidak. Kita harus meninggalkan tempat itu dan kembali 1,5 jam kemudian.
Saya peluk kembali si kecil. Dan membisikkan kata-kata semangat. Untuk memudian berjalan menjauh meninggalkannya, walau rasanya seperti meninggalkan separuh hati saya disana. Saya amati dari jauh. Dia tampak masih malu-malu, tapi berani berbaur dengan yang sekitar 11 anak lain yang semuanya anak kulit putih.
Mobil yang suami saya kendarai membawa kita semakin menjauh dari lokasi. Dari kejauhan saya masih mencari sesosok dirinya, anak yang satu-satunya mengenakan topi oranye. Mendoakan agar dia baik-baik saja. Dan memercayakan dia sepenuhnya dalam perawatan Dzat Yang Maha Pemeliharan. And with that i rest my case.
Satu setengah jam berlalu. Saatnya menjemput si kecil. Dia tampak ceria berlari kecil menyambut kedatangan orang tuanya. Ia bercerita dengan mata yang berbinar-binar tentang pengalamannya membangun perahu dari kayu, bermain waterbaloon dll. Para pemandunya mengatakan awalnya dia malu-malu tapi bisa catch up. Alhamdulillah.
Setiap anak punya ritmenya masing-masing yang kadang tak bisa kita paksakan. Tantangan sebagai orang tua adalah untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial dan masyarakat yang sering memberikan "pressure" dan label tertentu yang tidak efektif dan cenderung tidak berkontribusi positif kepada perkembangan si anak. Di saat itu kita perlu mendapatkan informasi dan ilmu yang baik dan benar agar paham duduk permasalahannya. Karena bagaimanapun anak adalah cerminan diri orang tuanya, maka fenomena apapun yang muncul pada anak kita sejatinya adalah perangkat dari Sang Pencipta untuk lebih mengenal diri dari cermin yang menampilkan bayangan kita yang luput dipersepsi jika tanpa kehadirannya. Jangan sampai saat berkaca mendapati buruk rupa lantas cermin dibelah.
Wow, i didn't see it coming. Anakku yang tadinya sangat pemalu. Yang selama dua tahun di pre-school lebih memilih main menyendiri. Pun hingga tahun pertama di TK tak banyak bicara hingga saya sebagai ibunya diajak meeting dengan jajaran direksi, psikolog dan konsulen di sekolah. Hingga akhirnya Allah mempertemukan dia dengan seorang guru senior bernama belakang "Levy", dalam kesaksiannya selama 30 tahun pengalaman mengajar, beliau mengatakan bahwa macam anak saya ini adalah anak kedua yang ia pernah jumpai. Seseorang dengan profil "highly sensitive" dia bilang adalah sangat tinggi empatinya, intuisinya tajam, cenderung sangat cerdas tapi biasanya di awal sering kesulitan memahami gejolak emosi yang ada di dalam diri. Maka anak seperti ini akan cenderung menyendiri atau ditangkap orang lain sebagai sangat pemalu.
Saya pun sudah mulai paham. Tidak mengikutkan anak ini pada berbagai macam kegiatan ekskul seperti kakaknya. Tapi perlahan-lahan, karena termotivasi oleh kakaknya. Dia pun mulai keluar dari cangkangnya. Walau dengan tartatih-tatih. Saya sebagai ibu dilatih tiga tahun lebih untuk memahami ritme emosinya. Sambil kerap dikejutkan dengan lonjakan pemikiran dan daya empatinya yang luar biasa untuk anak seusianya.
Akhir pekan ini, akhirnya kami pun mengantarnya untuk pertama kali ke kegiatan pramuka (scouting) sesuai keinginannya. Sejak pagi dia sudah sangat semangat untuk pergi. Hingga sampai tiba di depan gerbang sebuah bangunan di pedesaan yang asri, anaknya mulai ciut ketika melihat anak-anak yang lain yang belum ia kenal dan tempat yang sama sekali baru. Dia berbisik, "Mama, aku mual..." Saya tersenyum, paham kalau dia sedang stress. Saya peluk dia erat-erat dan berbisik kembali, "it's going to be okay..."
Saya bisa membayangkan ketegangan yang berkecamuk di dalam dirinya sampai menimbulkan rasa mual dan jantungnya yang mungkin berdetak lebih kencang. Tapi ia terus berjalan hingga mendekati tiga orang pemandu pramuka yang menyambutnya dengan sangat ramah. Kami berbicara sebentar memperkenalkan diri. Saya sebenarnya berharap di kali pertama mereka mengizinkan orang tua untuk bisa tinggal dan mengamati. Tapi ternyata tidak. Kita harus meninggalkan tempat itu dan kembali 1,5 jam kemudian.
Saya peluk kembali si kecil. Dan membisikkan kata-kata semangat. Untuk memudian berjalan menjauh meninggalkannya, walau rasanya seperti meninggalkan separuh hati saya disana. Saya amati dari jauh. Dia tampak masih malu-malu, tapi berani berbaur dengan yang sekitar 11 anak lain yang semuanya anak kulit putih.
Mobil yang suami saya kendarai membawa kita semakin menjauh dari lokasi. Dari kejauhan saya masih mencari sesosok dirinya, anak yang satu-satunya mengenakan topi oranye. Mendoakan agar dia baik-baik saja. Dan memercayakan dia sepenuhnya dalam perawatan Dzat Yang Maha Pemeliharan. And with that i rest my case.
Satu setengah jam berlalu. Saatnya menjemput si kecil. Dia tampak ceria berlari kecil menyambut kedatangan orang tuanya. Ia bercerita dengan mata yang berbinar-binar tentang pengalamannya membangun perahu dari kayu, bermain waterbaloon dll. Para pemandunya mengatakan awalnya dia malu-malu tapi bisa catch up. Alhamdulillah.
Setiap anak punya ritmenya masing-masing yang kadang tak bisa kita paksakan. Tantangan sebagai orang tua adalah untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial dan masyarakat yang sering memberikan "pressure" dan label tertentu yang tidak efektif dan cenderung tidak berkontribusi positif kepada perkembangan si anak. Di saat itu kita perlu mendapatkan informasi dan ilmu yang baik dan benar agar paham duduk permasalahannya. Karena bagaimanapun anak adalah cerminan diri orang tuanya, maka fenomena apapun yang muncul pada anak kita sejatinya adalah perangkat dari Sang Pencipta untuk lebih mengenal diri dari cermin yang menampilkan bayangan kita yang luput dipersepsi jika tanpa kehadirannya. Jangan sampai saat berkaca mendapati buruk rupa lantas cermin dibelah.
Monday, February 5, 2018
Demonstrasi Kasih Sayang di Sekolah
Jika ingin melihat demonstrasi kasih sayang yang tampak nyata dan menghangatkan hati lihatlah kesibukan anak-anak TK (pra sekolah) dan para orang tua yang menjemputnya. Anak usia pra sekolah (usia 3-6 tahun) masih sangat ekspresif dalam mengungkapkan perasaannya. Bahagia, sedih atau kesal mereka bisa terlihat langsung di raut wajahnya. Mereka masih polos dan begitu jujur apa adanya, belum banyak termakan oleh pengaruh sekitar.
Pagi ini saya melihat ada seorang ibu yang bergegas keluar dari kelas meninggalkan anak perempuannya yang menangis, karena masih baru masuk sekolah. Sang ibu menyembunyikan wajahnya dan menyeka air mata yang menetes di pipi sambil berkata "Oh, what a drama...". Saya mengerti betul perasaan dia, pengalaman dengan si bungsu yang masih menangis kalau ditinggal di sekolah bahkan setelah lebih dari tiga bulan membuat hati terbelah rasanya, satu sisi senang kalau dia punya lingkungan sosial baru, di sisi lain ada 'mother instinct' yang selalu ingin memeluknya dan menenangkannya jika dia menangis. Ah, there is no roller coaster feeling like being a parent.
Lalu ada seorang nenek yang meniup kaca dari luar sehingga meninggalkan jejak embun, nenek ini lalu menuliskan lambang hati dengan ujung jarinya. Sementara sang cucu yang ada di sisi lain kaca jendela berjingkrak kegirangan.
Kemudian ada seorang ayah yang berperawakan atletis, berjanggut tebal lari tergopoh-gopoh mengambil boneka Donald Duck yang terjatuh sementara anaknya menangis.
Tak jauh dari sana seorang ibu berdandan rapih lengkap dengan sepatu hak tinggi dan membawa tas laptop di tangan kanan dan tas anak bergambar ´Frozen´ di tangan kirinya bergegas menyusul anak perempuannya yang lebih dulu masuk ke dalam gedung sekolah.
Menakjubkan menyaksikan apa yang orang tua rela lakukan dan dedikasi tinggi mereka untuk anak-anaknya.
Monday, August 21, 2017
Jangan Abaikan Pertanyaan Anak Sekonyol Apapun
Feynman kecil suatu hari menarik-narik kereta mainan dengan bola di atasnya yang menggelinding setiap kali ia menggerakkan keretanya. Fenomena ini membuatnya terpana hingga ia bertanya kepada ayahnya, "Ayah kenapa bola itu bergerak kalau saya tarik keretanya?". Sang ayah menjawab singkat "Itu inersia". Lalu sang anak kembali bertanya, "Apa itu inersia?" Dan sang ayah kembali menjawab dengan santai, "Ya itu gaya yang membuat bola bisa bergerak." :)
Sekian puluh tahun kemudian sang anak yang bernama lengkap Richard Phillips Feynman menjadi fisikawan handal yang dikenal dengan teori "quantum electrodynamics" dan memperoleh penghargaan Nobel di tahun 1965.
Saat diwawancara Feynman mengatakan bahwa percakapan singkat dengan ayahnya di masa kecil tentang bola yang bergerak di atas kereta dorong dan inersia memberikan ia inspirasi untuk mendalami fisika.
Banyak ilmuwan yang mendapatkan inspirasi dari hal-hal keseharian saat masa kecilnya. Sebuah pesan bagi para orang tua atau mereka yang mengasuh anak-anak yang imajinasinya belum terbatas oleh waham-waham dan tembok-tembok ilusi dunia. Biarkan anak-anak bertanya dan jawab pertanyaan mereka dengan sebaik-baiknya, bahkan pertanyaan yang kita anggap konyol sekalipun. Siapa tahu hal itu yang menginspirasi dia dan menemukan jalur hidup yang sesuai dengan kata hatinya.
Keingintahuan itu sangat baik dan biarkan ia terus tumbuh yang dengannya sang mata air pengetahuan akhirnya akan diraih. Meminjam kata salah satu jenius sepanjang masa, Albert Einstein:
Saturday, August 5, 2017
Peran Perempuan Di Penggal Awal Usia Anak : Memberi Makanan Lahir Batin
Kegiatan memasak serius (bukan sekadar masa air atau masak mie instan) baru saya lakoni sejak menikah dan hijrah ke Belanda. Dengan bantuan mbah gugel saya mencoba berbagai resep yang alhamdulillah di awal-awal waktu banyak gagalnya, dari mulai masak sop yang gosong dan menghitam sampai pancinya dibuang, masak steak kurang mateng karena api kegedean, bikin nasi goreng keasinan, sampai menjamu tamu orang Belanda dengan niat memperkenalkan masakan Indonesia dengan masak sayur rebung pake pete walhasil orang itu sampai sekarang ngga nampak batang hidungnya, kasih kabar juga tidak #oops
Sekarang masakan saya sudah mulai 'eatable' :D Terakhir bikin ayam goreng bumbu kuning dengan sop sampai suami habis dua piring penuh senang rasanya. Ternyata memasak salah satu skill penting yang harus diajarkan baik kepada perempuan maupun laki-laki., apalagi keahlian ini wajib bagi perempuan sebagaimana pesan guru saya, "Peran perempuan adalah membentuk anak menjadi besar di awal harinya" Selain memberikan nutrisi batin berupa pendidikan yang benar juga nutrisi lahirnya dengan menyiapkan makanan yang baik. Apalagi kalau anak lebih dari satu dan setiap anak punya selera makanannya masing-masing, kita harus menyesuaikan untuk memastikan kecukupan gizinya.
Di tengah kisruh tentang manfaat dan mudharat memberikan vaksinasi untuk anak, kita juga harus mawas diri atas setiap suapan yang masuk ke dalam anak kita. Karena ia bisa jadi racun atau jadi obat bagi badannya. Seperti kata bapak kedokteran Hippocrates, “Let food be your medicine and medicine be your food.”
Friday, August 4, 2017
Why Do People Bully?
Sebuah survei yang mewawancarai 8.850 orang dengan topik 'bullying' menunjukkan bahwa anggapan banyak orang kalau korban bullying biasanya orang dengan karakteristik tertentu misal penampilan fisik, ras, seksualitas dll yang memancing orang cenderung membully tidak sepenuhnya tepat. Faktor internal pembully ternyata lebih banyak memegang peran penting.
Satu dari dua orang dikatakan pernah merasakan dibully dalam rentang usia sebelum 20 tahun. Tergantung derajat keparahan bullying sayangnya hal tersebut akan meninggalkan luka psikis dalam kehidupan seseorang. Dalam kondisi tertentu sang korban bisa merasa tidak aman dan secara tidak sadar mulai mengganti penampilan dan tingkah laku demi diterima dan aman dari gangguan para pembully, sedemikian rupa hingga ia pun tak segan-segan merubah identitas dan kesenangan yang berasal dari natur dirinya yang sejati.
Lantas mengapa seseorang bisa tega mem-bully orang lain?
Dari survei terhadap 8.850 orang, sebanyak 1.290 orang diantaranya mengaku pernah mem-bully orang lain. Kemudian ditemukan bahwa mereka yang melakukan bully rata-rata dalam hidupnya pernah atau tengah mengalami tekanan hidup (stress) yang demikian kuat, misalnya kehilangan salah satu orang tua atau perceraian orang tua yang diikuti oleh disharmoni (penekanannya bukan pada perceraian akan tetapi ketegangan yang dihasilkan oleh kedua orang tua). Penelitian itu menunjukkan bahwa mereka yang tidak tahu bagaimana harus merespon episode berat dalam kehidupannya akan cenderung melukai orang lain sebagai mekanisme kompensasi.
Satu dari tiga orang yang pernah melakukan bully mengatakan bahwa ia merasakan kehidupan keluarga yang kurang hangat. Mereka merasa orang tuanya atau pengasuhnya tidak benar-benar terlibat atau memberikan perhatian yang cukup kepadanya. Tidak jarang juga mempunyai perasaan seolah ditolak oleh mereka yang diharapkan menjadi pilar dalam asuhan di keluarga. Para pem-bully juga biasanya meniru kekerasan yang terjadi di dalam keluarganya.
Anak pada dasarnya hanya membutuhkan rasa aman untuk bisa tumbuh kembang dengan baik. Saat mereka tidak mendapatkan kehangatan kasih sayang dalam lingkungan awal dimana ia berasal dan bertumbuh maka ia akan mencari-cari jalan untuk menyelamatkan diri. Ada yang kompensasinya positif melalui berbagai kegiatan yang konstruktif namun tidak sedikit yang jatuh ke lembah hitam dan terjebak dalam lingkaran setan seumur hidupnya.
Para pem-bully adalah individu-individu yang menderita defisiensi cinta dan haus akan kasih sayang. Mereka memproyeksikan kepedihan hatinya dengan ingin membuat orang lain juga menderita demi sekadar memuaskan rasa hampa dalam batinnya.
“People who love themselves, don’t hurt other people. The more we hate ourselves, the more we want others to suffer.”
― Dan Pearce, Single Dad Laughing
Satu dari dua orang dikatakan pernah merasakan dibully dalam rentang usia sebelum 20 tahun. Tergantung derajat keparahan bullying sayangnya hal tersebut akan meninggalkan luka psikis dalam kehidupan seseorang. Dalam kondisi tertentu sang korban bisa merasa tidak aman dan secara tidak sadar mulai mengganti penampilan dan tingkah laku demi diterima dan aman dari gangguan para pembully, sedemikian rupa hingga ia pun tak segan-segan merubah identitas dan kesenangan yang berasal dari natur dirinya yang sejati.
Lantas mengapa seseorang bisa tega mem-bully orang lain?
Dari survei terhadap 8.850 orang, sebanyak 1.290 orang diantaranya mengaku pernah mem-bully orang lain. Kemudian ditemukan bahwa mereka yang melakukan bully rata-rata dalam hidupnya pernah atau tengah mengalami tekanan hidup (stress) yang demikian kuat, misalnya kehilangan salah satu orang tua atau perceraian orang tua yang diikuti oleh disharmoni (penekanannya bukan pada perceraian akan tetapi ketegangan yang dihasilkan oleh kedua orang tua). Penelitian itu menunjukkan bahwa mereka yang tidak tahu bagaimana harus merespon episode berat dalam kehidupannya akan cenderung melukai orang lain sebagai mekanisme kompensasi.
Satu dari tiga orang yang pernah melakukan bully mengatakan bahwa ia merasakan kehidupan keluarga yang kurang hangat. Mereka merasa orang tuanya atau pengasuhnya tidak benar-benar terlibat atau memberikan perhatian yang cukup kepadanya. Tidak jarang juga mempunyai perasaan seolah ditolak oleh mereka yang diharapkan menjadi pilar dalam asuhan di keluarga. Para pem-bully juga biasanya meniru kekerasan yang terjadi di dalam keluarganya.
Anak pada dasarnya hanya membutuhkan rasa aman untuk bisa tumbuh kembang dengan baik. Saat mereka tidak mendapatkan kehangatan kasih sayang dalam lingkungan awal dimana ia berasal dan bertumbuh maka ia akan mencari-cari jalan untuk menyelamatkan diri. Ada yang kompensasinya positif melalui berbagai kegiatan yang konstruktif namun tidak sedikit yang jatuh ke lembah hitam dan terjebak dalam lingkaran setan seumur hidupnya.
Para pem-bully adalah individu-individu yang menderita defisiensi cinta dan haus akan kasih sayang. Mereka memproyeksikan kepedihan hatinya dengan ingin membuat orang lain juga menderita demi sekadar memuaskan rasa hampa dalam batinnya.
“People who love themselves, don’t hurt other people. The more we hate ourselves, the more we want others to suffer.”
― Dan Pearce, Single Dad Laughing
Tuesday, March 21, 2017
Setiap Anak Adalah Seorang Filsuf
SETIAP ANAK ADALAH SEORANG FILSUF
"Ma, apakah kita sekarang sedang bermimpi?"
"Sama sekali tidak sayang." jawab si mama dengan pede.
"Mama yakin?"
Mama: ....
Demikian cuplikan dialog antara seorang ibu dengan lelakinya yang berusia 3 tahun. Pertanyaan yang sama dilontarkan oleh Rene Descartes, filsuf berkebangsaan Perancis di abad ke-17, "Bagaimana seseorang bisa yakin bahwa ia tidak tengah bermimpi?"
Anak-anak secara natur adalah seorang filsuf. Filosofi berasal dari kata berbahasa Yunani "philo", berarti cinta dan "sophos" yang bermakna hikmah. Sejak kecil anak-anak dengan fitrahnya yang masih murni senang mempertanyakan semua hal, keping-keping pengetahuan yang membangun konsep besar dari seluruh alam ciptaan.
Selain itu imajinasi anak yang belum terpasung oleh sekat-sekat normatif memungkinkan ia melihat fenomena dari berbagai sudut. Contohnya ada dalam dialog antara Ali, seorang anak lelaki berusia lime tahun yang tiba-tiba berceletuk kepada tantenya, "Tante, masa depan kita bisa berpengaruh kepada masa lalu ya?". Sang tante yang sedang lincah menggerakkan jari jemarinya di layar smartphone langsung tersenyum geli - seraya mentertawakan ungkapan keponakannya- "Ya ngga lah, yang benar itu masa lalu berpengaruh membentuk masa depan kita". Sang tante yang memang bukan filsuf dan tidak juga tertarik untuk berpikir dalam menampik ajakan sang keponakan untuk mengeksplorasi kemungkinan "masa depan bisa berkontribusi kepada masa lalu seseorang". Kemudian kakaknya, yang berusia 9 tahun dan masih belum begitu "terpasung" alur berpikirnya mencoba mendukung gagasan sang adik, "Maksudnya mungkin begini tante, kalau seseorang belajar dengan baik hari ini, tentu ia akan meraih hasilnya berupa nilai yang bagus. Nah ketika seseorang berpikir tentang kebaikan yang akan dipetik di masa depan dan membuat ia lebih termotivasi untuk belajar disitulah peran masa depan bisa berkontribusi kepada masa lalu seseorang." Sang kakak menjelaskan dengan antusias dan berharap mendapatkan respon yang positif dari sang tante.
Si tante kemudian mengalihkan pandangannya dari layar smartphone yang sejak tadi menyerap seluruh waktu dan - sepertinya juga jiwanya - kemudian menatap dua bersaudara itu dalam-dalam, kemudian berkata "Kalian ini ada-ada saja. Itu adalah pemikiran yang salah. Yang benar adalah masa lalu kita membentuk masa depan. Titik"
Sambil lanjut meraih benda elektronik kotak yang menyerap demikian banyak waktu dan perhatiannya selama beberapa tahun terakhir.
Sang adik dan kakak hanya saling berpandangan dan melempar senyuman penuh arti seakan berkata "hopeless...".
Setiap anak adalah seorang filsuf, jiwa suci yang rindu akan sebuah nilai kebenaran (al haq). Dan perjalanan awal untuk menelusuri jalan pengenalan alam dan dirinya adalah dengan mempertanyakan semua hal. Adalah sang dewasa yang sudah terjerat oleh "rutinitas harian" yang kerap tidak sabar dalam melayani keingintahuan anak yang begitu menggelora. Sehingga ungkapan seperti, "udah jangan banyak tanya!" atau jurus mengalihkan seperti "sudah malam ayo tidur!" secara tidak sadar lambat laun memudarkan pijar daya tafakur dalam diri anak. Setidaknya, kalaupun kita pun tidak mengetahui jawabannya, jujur saja dengan berkata "Wah, mama juga belum tahu, mari kita cari sama-sama jawabannya.". Apapun itu jangan sampai api semangat anak dalam mencari kebenaran padam. Seperti sang maestro seni Picasso katakan, "Setiap anak terlahir menjadi seniman. Masalahnya adalah bagaimana untuk menjaga jiwa seni sang anak hingga ia dewasa.". Anak-anak kita - termasuk kita sendiri - terlahir sebagai filsuf, kita cinta kebenaran dan jiwa kita akan selalu mencari informasi tentang Sang Al Haq yang tak jarang harus didapatkan dengan mempertanyakan sebuah konsep kebenaran yang sedang kita genggam per saat ini. Karena kebenaran yang diyakini di satu hari bisa jadi berhala di hari lain. Benar kiranya apa kata Socrates, "A life that is not questioned is not worth living."
(Referensi : "Every child is a philosopher". Dr. Bahar Eris. Seorang akademisi dan penulis yang memperdalam pendidikan dan perkembangan bakat pada anak-anak. Associate Professor di Bahcesehir International University, Turki.)
Subscribe to:
Comments (Atom)

