Tuesday, September 29, 2015

Dua Tahun Pertama Yang Krusial

"Sebanyak 80% sel otak dibentuk pada usia dua tahun pertama dalam kehidupannya."
- Professor Alan Schore, Neurologist UCLA
Dua tahun pertama pertumbuhan anak adalah usia yang sangat rentan, karena secara fisik otak sedang aktif membuat triluyan sambungan saraf dan sel saraf dan apabila proses ini terganggu, kerusakan bisa jadi bersifat permanen.
Apa yang dibutuhkan oleh seorang anak dalam saat yang genting itu?
Cinta dan kehangatan orang tuanya, terutama sang ibu sebagai pengasuh utama.
Saya bisa lebih mengerti kenapa dalam Al Qur'an dianjurkan usia penyusuan adalah sekitar dua tahun. Kedekatan yang terjadi selama proses penyusuan (terlepas itu ASI atau ASS (Air Susu Sapi) atau ASO (Air Susu Orang-lain) - merupakan saat dimana sang anak merasa aman, bayangkan, dia baru saja melewati fase transisi perpindahan dari alam rahim yang ke alam dunia yang lebih kompleks. Oleh karenanya ekspresi bayi ketika dilahirkan adalah menangis, bukan tertawa - dan butuh ditenangkan oleh orang tuanya.
Maka anak akan selalu, yup i mean it, SELALU membutuhkan dan meminta perhatian orang tuanya. Semakin anak beranjak dewasa semakin banyak ragam hal yang ia ingin bagi bersama orang tua, nah disini orang tua harus belajar teknik agar anak tetap merasa mendapat perhatian dan orang tua tidak ngos-ngosan kehabisan energi di sela-sela kegiatan yang menggunung sementara waktu dan tenaga terbatas.
Anak yang kurang mendapat perhatian orang tuanya terbukti mengalami defisit pertumbuhan otak (perhatikan gambar di bawah). 


"Lha terus gimana dong? Saya juga kan harus mengerjakan hal lain?"
- tanya seorang partisipan pelatihan Positive Parenting.
Tenang buibu...memberi perhatian kepada anak bukan berarti kita manteng di depan dia seharian. Tapi lebih ke : berikan perhatian penuh saat mereka membutuhkan. Bayi kan ga seharian menangis, mereka menangis saat mereka lapar, ingin diganti popok atau ingin diajak main. Anak juga demikian, banyak kalanya mereka bermain sendirian tapi tidak jarang mereka menarik-narik baju kita dan bilang "Lihat mama, aku jadi dinosaurus!" dan saat itu kita selaiknya menghadapkan 'wajah' kita sepenuhnya kepada mereka, tidak cukup dengan melengos "wow bagus!" basa-basi sambil mata tetap memelototi gadget. Anak juag manusia lho buibu, mereka bahkan insan yang masih murni hatinya, bisa merasakan mana perhatian yang tulus dan mana yang asal.
So, bagi-bagi poin pertama adalah:
Berikan anak kita perhatian dengan sepenuh cinta smile emoticon

Thursday, June 11, 2015

Biarkan Anak Laki-Laki Bermain Dengan Boneka

Elia (3thn) suka main boneka disela-sela bermain mobil, dinosaurus dan kereta api - sederetan mainan favoritnya saat ini. Suatu hari saya memerhatikan dia 'mengurus' salah satu bonekanya bernama 'mangki' (dari monkey si monyet) dia bacakan mangki buku, peluk, belai kepalanya dan menyelimutinya untuk tidur. Awalnya saya pikir ia meniru hal-hal yang dia lihat saat ibunya mengurus si bungsu, tapi ternyata saya di sekolahnya dia juga diajarkan untuk mengurus boneka bayi, dari memandikan, mengganti baju, memberi susu sampai menidurkan dia di tempat tidur kecilnya. This is quiet something for me, karena saya masih ingat saat saya kecil, biasanya orang tua menekankan stereotipe tertentu, kalau laki-laki diberi mainan mobil-mobilan, pistol atau mainan-mainan lain yang macho, sampai-sampai anak laki-laki dilarang untuk main boneka sambil biasanya disindir "iih..main boneka kan untuk perempuan", tampaknya orang tua dulu khawatir anaknya akan tumbuh kurang kejantanannya. Sama halnya kalau anak menangis, orang tua akan bilang, "masa anak laki nangis!". It's as if anak laki-laki dipaksa untuk selalu menunjukkan sifat yang kuat, stereotipe maskulin.
Apa salahnya bila anak laki-laki bermain boneka dan menangis? Tidak ada sama sekali. Bahkan berdasarkan penelitian yang dilakukan tahun 2010 terhadap 426 anak laki-laki (dimuat di Washington Post) menunjukkan bahwa anak-anak yang terbiasa mengemukakan perasaannya dengan baik semasa kecil akan memiliki kemampuan menghadapi gejolak perasaan depresi di kemudian hari. Demikian juga ketidakmampuan mengemukakan perasaan dengan baik akan berujung kepada perilaku agresif yang bisa merusak anak di kemudian hari.
Asumsi saya, perilaku agresif yang muncul di masyarakat seperti tawuran, perilaku yang kasar di jalan raya, hingga menghilangkan nyawa orang lain bisa jadi berakar dari afeksi masa kecil yang kurang tersalurkan dengan baik. Anak-anak yang lahir sebagai buah cinta dari ayah dan ibunya selalu membutuhkan cinta dan mampu untuk mengungkapkannya dengan berbagai cara, dengan kata "aku sayang ayah", dengan pelukan, ciuman atau dengan menyalurkan sifat kasih mereka dengan merawat sang boneka. Jadi ya, saya dan suami saya sepakat untuk membiarkan anak-anak laki-laki kami main dengan boneka dan membimbing mereka untuk senantiasa mengungkapkan segala perasaannya mau itu senang, sedih atau marah. Membiarkan anak-anak kita tumbuh apa adanya.[]

Friday, May 15, 2015

'Attachment' (kemelekatan) Pada Anak

Kata 'attachment' digunakan oleh para psikolog untuk menggambarkan hubungan antara anak dan pengasuhnya (orang tua,teman atau keluarga yang mengasuh sehari-hari).

Adalah seorang pelajar -dari guru yang mendalami teori 'attachment' bernama Mary Ainsworth yang melakukan pengamatan selama berminggu-minggu terhadap pola interaksi antara bayi berusia satu tahun dengan ibunya di dalam ruang pengamatan. Percobaan ini dinamakan dengan 'a Strange Situation' (SS).

Pertama-tama anak dan ibu dibiarkan bermain bersama dan beradaptasi dengan ruangan baru, kemudian seseorang akan memasuki ruangan dan berinteraksi dengan ibu dan anak dengan akrab. Setelah sekian lama, sang ibu akan keluar sejenak dari ruangan -meninggalkan bayi berdua dengan orang yang baru ia temui- untuk kemudian kembali bermain dengan sang bayi.

Dari pengamatan ini didapatkan secara umum 4 tipe kemelekatan anak.

1. Secure attachment
Anak yang melekat dengan ibunya dan merasa aman dengannya menunjukkan perilaku menangis saat sang ibu keluar dari ruangan dan protes dengan caranya masing-masing. Akan tetapi saat ibu kembali ke ruangan dan memeluknya ia akan kembali tenang tak berapa lama dan kembali bermain.

Pola kemelekatan seperti ini biasanya terbentuk dari orang tua yang responsif dan melibatkan diri dengan segenap rasa ketika mengasuh anak, sehingga sang anak merasa kebutuhannya sebagian besar terpenuhi, dengan kata lain komunikasi terjalin lancar dan sang anak merasa kebutuhannya terpahami dan dipenuhi. Hal ini mengakibatkan kepercayaan diri anak tumbuh untuk bisa menlakukan eksplorasi di dunia sekitarnya.

2. Avoidant attachment
Ini adalah bentuk kemelekatan dengan cara yang justru tidak menunjukkan kemelekatan. Dalam kasus ini seringkali anak tidak berusaha mencari ibunya atau protes saat ia meninggalkan ruangan, ia akan terus bermain sendiri.

Pola hubungan seperti ini biasanya timbul jika orang tua atau pengasuh anak tidak melibatkan diri dengan anak dalam keseharian. Bisa jadi pengasuh secara fisik berada dekat dengan anak namun sibuk dengan dunianya sendiri, misal menonton televisi atau tenggelam dalam dunia maya. Anak seringkali merasa tidak diberi perhatian, bahkan dalam kasus ekstrem merasa ditolak. 

Jika sang anak seringkali merasa kebutuhannya tidak diidentifikasi dia akan membangun mekanisme pertahanan diri untuk memenuhi kebutuhannya sendiri seolah-olah berkata, "ibuku tidak responsif terhadap kebutuhanku bahkan saat aku menunjukkan emosi, lebih baik aku sama sekali tidak menampakkan perasaanku sama sekali."

3. Ambivalent attachment
Saat orang tua bersikap inkonsisten dalam memberikan perhatiannya kepada anak; kadang bisa larut bermain bersama anak dan responsif terhadap setiap detil kebutuhan sang buah hati, namun tidak jarang juga tersibukkan dengan dunia atau kegiatannya sendiri. Dua tipe hubungan yang ekstrem bisa membuat anak bingung dan akhirnya bersikap ambivalen.

Dalam percobaan itu, anak bisa jadi menunjukkan kegelisahannya saat sang ibu pergi, tapi juga terlihat menekan rasa itu dan terlihat acuh pada saat yang bersamaan. Tidak jarang anak akan cenderung agresif dan sangat 'demanding' untuk menarik perhatian sang orang tua. 

Dalam kemelekatan seperti ini anak seolah berkata, "walaupun ibuku ada secara fisik, namun ia tidak akan bisa menenangkanku." Maka tindakannya adalah dengan 'over-activating' sikap-sikap yang menunjukkan kemelekatan.

4. Disorganized attachment
Pola kemelekatan seperti ini sebetulnya bukan langsung dari pengamatan dalam percobaan yang dilakukan oleh Mary di dalam lab, akan tetapi sering muncul dari anak-anak korban kekerasan secara fisik atau psikis di dalam rumah.

Respon yang tidak teratur dan tidak dapat ditebak saat anak berada dalam situasi yang kurang nyaman, misal berada dalam ruangan baru atau bertemu orang yang baru dikenal - anak bisa suatu saat menempel (clingy) pada ibunya dan di saat lain berubah menjauhinya. Tampak sekali bahwa sang anak sebenarnya merasa kurang nyaman dalam interaksi bersama orang tua yang dalam keseharian tidak jarang melakukan kekerasan secara fisik atau psikis (misal teriak atau membentak anak).

Keempat macam bentuk kemelekatan di atas bukanlah semacam diagnosis akhir, akan tetapi suatu pengamatan yang bersifat temporer, dimana hasil yang nampak sangat dipengaruhi oleh pola interaksi antara anak dan orang tua selanjutnya.

Setidaknya hasil percobaan ini memberi gambaran betapa mengurus anak merupakan kegiatan yang sepatutnya dilakukan sepenuh hati dan kesadaran, bukan suatu pekerjaan sampingan apalagi dianggap menghabiskan waktu pribadi. Karena sejatinya tugas mengurus anak - terutama fase pengukiran karakter dalam 7 tahun pertama kehidupan anak- adalah misi besar yang diemban setiap orang tua. Merawat anak sesuai fitrah dirinya.

Monday, March 23, 2015

Anak Saya Kalau Ngambek Keterlaluan

Tanya : Anak saya yang berusia 17 bulan kadang bertingkah keterlaluan saat ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia bisa menangis histerik hingga beberapa menit kemudian muntah-muntah. Dan satu-satunya cara menghentikan ngambeknya ini adalah dengan memberinya apapun yang dia inginkan. Saya tahu tidak baik untuk selalu memberi apapun yang ia inginkan, tapi kadang saya suka frustasi tidak tahuh lagi apa yang harus dilakukan. Bagaimana saya mengatasi tantrum berlebihan dari anak saya ini?

Dr. Sears menjawab: beberapa anak bisa jadi lebih sensitif perasaannya dan pada usia toddler seperti ini dan adalah hal yang wajar saat kemampuan komunikasi anak belum berkembang secara sempurna, maka mereka akan berusaha berkomunikasi dengan cara yang saat itu mereka kuasai, merengek, menangis dan beberapa anak terutama laki-laki  bisa jadi diikuti dengan gerakan-gerakan fisik karen pada laki-laki kemampuan motoriknya berkembang lebih cepat dibanding kemampuan berbahasa.

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua jika berada dalam situasi seperti ini.

1. Kenali pencetusnya

Apakah sang anak lelah, bosan, atau marah? Ada anak yang kurang bisa bermain dengan anak lain terutama apabila anak lain sangat agresif, maka sebelum ia mulai meledak emosinya, kita sebagai orang tua sudah menarik dia untuk bermain di tempat lain misalnya. Atau mungkin dia kesal karena belum mahir bermain puzzle dengan keping yang lebih kecil, maka kita ikut terlibat untuk membantunya sebelum emosinya memuncak dan mewujud menjadi tantrum.

2. Kenali mengapa sang anak ngambek

Tantrum ada dua jenis: Tanrum yang berasal dari rasa frustasi dan tantrum yang bersifat manipulatif.
Saat anak ngambek karena mendapat kesulitan mengerjakan sesuatu, misal selalu terjatuh saat hendak menaiki sepeda kecilnya, maka ini kesempatan yang bagus untuk membangun kedekatan dengan anak, libatkan diri anda untuk membantu si kecil dengan kesulitannya, maka ia akan belajar nilai yang positif tentang memberi bantuan dan mendapatkan rasa nyaman juga perasaan bahwa Anda sebagai orang tua dapat diandalkan.

Jenis tantrum lain adalah tantrum yang bersifat manipulatif, yaitu saat si anak ngambek dan berulah semata-mata ingin agar keinginannya dipenuhi tanpa tahu bahwa sesuatu itu tidak baik bahkan berbahaya untuknya. Misalnya ia ngambek karena tidak diperbolehkan memegang pisau. Maka kita tentu harus konsisten untuk tidak memenuhi permintaannya dengan terus memberi penjelasan dan membuat dia merasa nyaman misal dengan memberinya pelukan atau menawarkan benda yang serupa.

3. Ajari anak cara lain mengekspresikan perasaannya

Anak akan belajar bagaimana mengungkapkan perasaan dengan baik dari orang tua. Saat anak ngambek ngga karuan, peluk ia dan katakan dengan penuh sayang sambil menatap matanya, "Mama tahu kakak marah, tapi kalau ingin sesuatu kan bisa bilang baik-baik apa yang kakak inginkan ya sayang."

4. Kenali ambang kesal Anda

Orang tua juga manusia, pada kondisi tertentu bisa jadi kita bisa gampang tersulut emosi dengan tingkah anak yang dianggap menjengkelkan. Jika Anda sudah mulai merasa level emosi meningkat maka tenangkan diri dengan cara yang dianggap tepat; ada yang menghitung dari 1 sampai 10, ada yang berjalan ke ruangan lain untuk menenangkan diri sejenak. Apapun itu cegah diri Anda untuk tidak meledak emosinya di depan anak, ingat Anda adalah orang dewasa di sini sedangkan kelakuan tantrum anak Anda tidak lebih dari reaksi wajar anak pada usianya. So, keep it cool...

Referensi : http://www.parenting.com/article/ask-dr-sears-intolerable-toddler-tantrums

Wednesday, January 28, 2015

Faktor-Faktor Yang Membuat Pendidikan Anak Pra Sekolah Di Eropa Mendominasi Rangking Atas



Negara Finlandia, Swedia dan Norwegia menduduki tiga besar dalam indeks pendidikan anak pra sekolah berdasarkan penelitian yang diadakan di 45 negara yang dilakukan oleh Economist Intelligence Unit bekerjasama dengan Lien Foundation. Hal ini bisa terjadi karena adanya langkah-langkah sbb:

Investasi jangka panjang dalam pendidikan anak pra sekolah yang juga secara massif disosialisasikan pada masyarakatnya.
Pendekatan sistematis dan menyeluruh dalam pembuatan rencana pendidikan dan perkembangan anak, lengkap dengan strategi promosi pada masyarakat yang juga didukung oleh pemerintah melalui hukum yang disusunnya.
Subsidi diberikan kepada keluarga yang kurang mampu, sehingga setiap anak sejak usia 3 tahun bisa mendapatkan fasilitas pendidikan.
Pemilihan dan pendidikan pengajar pra sekolah yang tertata baik. Seorang pendidik anak pra sekolah diharuskan menguasai kemampuan dasar minimal tertentu.
Rasio anak dan guru yang tidak terlalu tinggi.
Kurikulum pendidikan pra sekolah yang “well-defined” disertai panduan kesehatan dan keselamatan anak.
Melibatkan orang tua dan pengasuh.
Lingkungan social ekonomi yang kondusif di sekitar anak sehingga anak secara fisik sehat untuk bersekolah.

Sumber : Starting well: Benchmarking early education across the world. A report from the Economist Intelligence Unit. 2012