Elia (3thn) suka main boneka disela-sela bermain mobil, dinosaurus dan kereta api - sederetan mainan favoritnya saat ini. Suatu hari saya memerhatikan dia 'mengurus' salah satu bonekanya bernama 'mangki' (dari monkey si monyet) dia bacakan mangki buku, peluk, belai kepalanya dan menyelimutinya untuk tidur. Awalnya saya pikir ia meniru hal-hal yang dia lihat saat ibunya mengurus si bungsu, tapi ternyata saya di sekolahnya dia juga diajarkan untuk mengurus boneka bayi, dari memandikan, mengganti baju, memberi susu sampai menidurkan dia di tempat tidur kecilnya. This is quiet something for me, karena saya masih ingat saat saya kecil, biasanya orang tua menekankan stereotipe tertentu, kalau laki-laki diberi mainan mobil-mobilan, pistol atau mainan-mainan lain yang macho, sampai-sampai anak laki-laki dilarang untuk main boneka sambil biasanya disindir "iih..main boneka kan untuk perempuan", tampaknya orang tua dulu khawatir anaknya akan tumbuh kurang kejantanannya. Sama halnya kalau anak menangis, orang tua akan bilang, "masa anak laki nangis!". It's as if anak laki-laki dipaksa untuk selalu menunjukkan sifat yang kuat, stereotipe maskulin.
Apa salahnya bila anak laki-laki bermain boneka dan menangis? Tidak ada sama sekali. Bahkan berdasarkan penelitian yang dilakukan tahun 2010 terhadap 426 anak laki-laki (dimuat di Washington Post) menunjukkan bahwa anak-anak yang terbiasa mengemukakan perasaannya dengan baik semasa kecil akan memiliki kemampuan menghadapi gejolak perasaan depresi di kemudian hari. Demikian juga ketidakmampuan mengemukakan perasaan dengan baik akan berujung kepada perilaku agresif yang bisa merusak anak di kemudian hari.
Asumsi saya, perilaku agresif yang muncul di masyarakat seperti tawuran, perilaku yang kasar di jalan raya, hingga menghilangkan nyawa orang lain bisa jadi berakar dari afeksi masa kecil yang kurang tersalurkan dengan baik. Anak-anak yang lahir sebagai buah cinta dari ayah dan ibunya selalu membutuhkan cinta dan mampu untuk mengungkapkannya dengan berbagai cara, dengan kata "aku sayang ayah", dengan pelukan, ciuman atau dengan menyalurkan sifat kasih mereka dengan merawat sang boneka. Jadi ya, saya dan suami saya sepakat untuk membiarkan anak-anak laki-laki kami main dengan boneka dan membimbing mereka untuk senantiasa mengungkapkan segala perasaannya mau itu senang, sedih atau marah. Membiarkan anak-anak kita tumbuh apa adanya.[]