"I want to join scouting, mama" katanya dengan semangat.
Wow, i didn't see it coming. Anakku yang tadinya sangat pemalu. Yang selama dua tahun di pre-school lebih memilih main menyendiri. Pun hingga tahun pertama di TK tak banyak bicara hingga saya sebagai ibunya diajak meeting dengan jajaran direksi, psikolog dan konsulen di sekolah. Hingga akhirnya Allah mempertemukan dia dengan seorang guru senior bernama belakang "Levy", dalam kesaksiannya selama 30 tahun pengalaman mengajar, beliau mengatakan bahwa macam anak saya ini adalah anak kedua yang ia pernah jumpai. Seseorang dengan profil "highly sensitive" dia bilang adalah sangat tinggi empatinya, intuisinya tajam, cenderung sangat cerdas tapi biasanya di awal sering kesulitan memahami gejolak emosi yang ada di dalam diri. Maka anak seperti ini akan cenderung menyendiri atau ditangkap orang lain sebagai sangat pemalu.
Saya pun sudah mulai paham. Tidak mengikutkan anak ini pada berbagai macam kegiatan ekskul seperti kakaknya. Tapi perlahan-lahan, karena termotivasi oleh kakaknya. Dia pun mulai keluar dari cangkangnya. Walau dengan tartatih-tatih. Saya sebagai ibu dilatih tiga tahun lebih untuk memahami ritme emosinya. Sambil kerap dikejutkan dengan lonjakan pemikiran dan daya empatinya yang luar biasa untuk anak seusianya.
Akhir pekan ini, akhirnya kami pun mengantarnya untuk pertama kali ke kegiatan pramuka (scouting) sesuai keinginannya. Sejak pagi dia sudah sangat semangat untuk pergi. Hingga sampai tiba di depan gerbang sebuah bangunan di pedesaan yang asri, anaknya mulai ciut ketika melihat anak-anak yang lain yang belum ia kenal dan tempat yang sama sekali baru. Dia berbisik, "Mama, aku mual..." Saya tersenyum, paham kalau dia sedang stress. Saya peluk dia erat-erat dan berbisik kembali, "it's going to be okay..."
Saya bisa membayangkan ketegangan yang berkecamuk di dalam dirinya sampai menimbulkan rasa mual dan jantungnya yang mungkin berdetak lebih kencang. Tapi ia terus berjalan hingga mendekati tiga orang pemandu pramuka yang menyambutnya dengan sangat ramah. Kami berbicara sebentar memperkenalkan diri. Saya sebenarnya berharap di kali pertama mereka mengizinkan orang tua untuk bisa tinggal dan mengamati. Tapi ternyata tidak. Kita harus meninggalkan tempat itu dan kembali 1,5 jam kemudian.
Saya peluk kembali si kecil. Dan membisikkan kata-kata semangat. Untuk memudian berjalan menjauh meninggalkannya, walau rasanya seperti meninggalkan separuh hati saya disana. Saya amati dari jauh. Dia tampak masih malu-malu, tapi berani berbaur dengan yang sekitar 11 anak lain yang semuanya anak kulit putih.
Mobil yang suami saya kendarai membawa kita semakin menjauh dari lokasi. Dari kejauhan saya masih mencari sesosok dirinya, anak yang satu-satunya mengenakan topi oranye. Mendoakan agar dia baik-baik saja. Dan memercayakan dia sepenuhnya dalam perawatan Dzat Yang Maha Pemeliharan. And with that i rest my case.
Satu setengah jam berlalu. Saatnya menjemput si kecil. Dia tampak ceria berlari kecil menyambut kedatangan orang tuanya. Ia bercerita dengan mata yang berbinar-binar tentang pengalamannya membangun perahu dari kayu, bermain waterbaloon dll. Para pemandunya mengatakan awalnya dia malu-malu tapi bisa catch up. Alhamdulillah.
Setiap anak punya ritmenya masing-masing yang kadang tak bisa kita paksakan. Tantangan sebagai orang tua adalah untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial dan masyarakat yang sering memberikan "pressure" dan label tertentu yang tidak efektif dan cenderung tidak berkontribusi positif kepada perkembangan si anak. Di saat itu kita perlu mendapatkan informasi dan ilmu yang baik dan benar agar paham duduk permasalahannya. Karena bagaimanapun anak adalah cerminan diri orang tuanya, maka fenomena apapun yang muncul pada anak kita sejatinya adalah perangkat dari Sang Pencipta untuk lebih mengenal diri dari cermin yang menampilkan bayangan kita yang luput dipersepsi jika tanpa kehadirannya. Jangan sampai saat berkaca mendapati buruk rupa lantas cermin dibelah.
No comments:
Post a Comment