Friday, August 4, 2017

Why Do People Bully?

Sebuah survei yang mewawancarai 8.850 orang dengan topik 'bullying' menunjukkan bahwa anggapan banyak orang kalau korban bullying biasanya orang dengan karakteristik tertentu misal penampilan fisik, ras, seksualitas dll yang memancing orang cenderung membully tidak sepenuhnya tepat. Faktor internal pembully ternyata lebih banyak memegang peran penting.

Satu dari dua orang dikatakan pernah merasakan dibully dalam rentang usia sebelum 20 tahun. Tergantung derajat  keparahan bullying sayangnya hal tersebut akan meninggalkan luka psikis dalam kehidupan seseorang. Dalam kondisi tertentu sang korban bisa merasa tidak aman dan secara tidak sadar mulai mengganti penampilan dan tingkah laku demi diterima dan aman dari gangguan para pembully, sedemikian rupa hingga ia pun tak segan-segan merubah identitas dan kesenangan yang berasal dari natur dirinya yang sejati.

Lantas mengapa seseorang bisa tega mem-bully orang lain?

Dari survei terhadap 8.850 orang, sebanyak 1.290 orang diantaranya mengaku pernah mem-bully orang lain. Kemudian ditemukan bahwa mereka yang melakukan bully rata-rata dalam hidupnya pernah atau tengah mengalami tekanan hidup (stress) yang demikian kuat, misalnya kehilangan salah satu orang tua atau perceraian orang tua yang diikuti oleh disharmoni (penekanannya bukan pada perceraian akan tetapi ketegangan yang dihasilkan oleh kedua orang tua). Penelitian itu menunjukkan bahwa mereka yang tidak tahu bagaimana harus merespon episode berat dalam kehidupannya akan cenderung melukai orang lain sebagai mekanisme kompensasi.

Satu dari tiga orang yang pernah melakukan bully mengatakan bahwa ia merasakan kehidupan keluarga yang kurang hangat. Mereka merasa orang tuanya atau pengasuhnya tidak benar-benar terlibat atau memberikan perhatian yang cukup kepadanya. Tidak jarang juga mempunyai perasaan seolah ditolak oleh mereka yang diharapkan menjadi pilar dalam asuhan di keluarga. Para pem-bully juga biasanya meniru kekerasan yang terjadi di dalam keluarganya. 

Anak pada dasarnya hanya membutuhkan rasa aman untuk bisa tumbuh kembang dengan baik. Saat mereka tidak mendapatkan kehangatan kasih sayang dalam lingkungan awal dimana ia berasal dan bertumbuh maka ia akan mencari-cari jalan untuk menyelamatkan diri. Ada yang kompensasinya positif melalui berbagai kegiatan yang konstruktif namun tidak sedikit yang jatuh ke lembah hitam dan terjebak dalam lingkaran setan seumur hidupnya. 

Para pem-bully adalah individu-individu yang menderita defisiensi cinta dan haus akan kasih sayang. Mereka memproyeksikan kepedihan hatinya dengan ingin membuat orang lain juga menderita  demi sekadar memuaskan rasa hampa dalam batinnya.

“People who love themselves, don’t hurt other people. The more we hate ourselves, the more we want others to suffer.” 
― Dan Pearce, Single Dad Laughing

No comments:

Post a Comment