Kegiatan memasak serius (bukan sekadar masa air atau masak mie instan) baru saya lakoni sejak menikah dan hijrah ke Belanda. Dengan bantuan mbah gugel saya mencoba berbagai resep yang alhamdulillah di awal-awal waktu banyak gagalnya, dari mulai masak sop yang gosong dan menghitam sampai pancinya dibuang, masak steak kurang mateng karena api kegedean, bikin nasi goreng keasinan, sampai menjamu tamu orang Belanda dengan niat memperkenalkan masakan Indonesia dengan masak sayur rebung pake pete walhasil orang itu sampai sekarang ngga nampak batang hidungnya, kasih kabar juga tidak #oops
Sekarang masakan saya sudah mulai 'eatable' :D Terakhir bikin ayam goreng bumbu kuning dengan sop sampai suami habis dua piring penuh senang rasanya. Ternyata memasak salah satu skill penting yang harus diajarkan baik kepada perempuan maupun laki-laki., apalagi keahlian ini wajib bagi perempuan sebagaimana pesan guru saya, "Peran perempuan adalah membentuk anak menjadi besar di awal harinya" Selain memberikan nutrisi batin berupa pendidikan yang benar juga nutrisi lahirnya dengan menyiapkan makanan yang baik. Apalagi kalau anak lebih dari satu dan setiap anak punya selera makanannya masing-masing, kita harus menyesuaikan untuk memastikan kecukupan gizinya.
Di tengah kisruh tentang manfaat dan mudharat memberikan vaksinasi untuk anak, kita juga harus mawas diri atas setiap suapan yang masuk ke dalam anak kita. Karena ia bisa jadi racun atau jadi obat bagi badannya. Seperti kata bapak kedokteran Hippocrates, “Let food be your medicine and medicine be your food.”
No comments:
Post a Comment